Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan pentingnya melindungi anak-anak dari dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Anak dinilai lebih rentan terhadap paparan asap karena sistem pernapasan dan kekebalan tubuhnya masih berkembang.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr Fifi Sofiah, SpA, Subsp Respi(K), menjelaskan asap karhutla mengandung campuran zat berbahaya yang lebih kompleks daripada yang sering dibayangkan masyarakat.
"Asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar 'asap biasa'. Ia mengandung partikel padat, gas, dan cairan hasil pembakaran tidak sempurna-mulai dari hidrogen sulfida, sulfur, karbon dioksida, polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), asam, hingga logam berat seperti silika, tembaga, kadmium, timbal, bromium, zink, dan kalium," demikian katanya melalui keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (19/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, salah satu komponen yang perlu diwaspadai adalah partikel PM2.5 yang berukuran kurang dari 2,5 mikron. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut menembus hingga bagian terdalam paru-paru, yakni alveoli, bahkan berpotensi masuk ke aliran darah.
dr Fifi menjelaskan organ pernapasan anak menjadi salah satu bagian tubuh yang rentan terdampak karena masih berkembang secara anatomis dan fisiologis. Partikel PM10 dapat mengiritasi saluran pernapasan atas, sedangkan PM2.5 dapat menembus lebih dalam dan memicu gangguan pada saluran pernapasan bawah.
Selain itu, aldehida dalam asap dilaporkan dapat mengganggu fungsi silia atau rambut halus di saluran pernapasan yang berperan membantu mengeluarkan partikel asing. Sementara itu, karbon monoksida dapat mengganggu kemampuan darah mengangkut oksigen. Paparan polutan juga dapat memicu kerusakan sel.
Dalam jangka panjang, paparan asap karhutla berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan kronis dan memengaruhi kualitas hidup anak hingga dewasa.
Anak lebih rentan terhadap polusi udara bukan hanya karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang, melainkan juga karena diameter saluran pernapasannya lebih kecil dan frekuensi napasnya lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Anak juga memiliki kebutuhan ventilasi udara per kilogram berat badan yang lebih besar.
Akibatnya, dalam kondisi udara tercemar, anak dapat menerima paparan polutan yang lebih besar dibandingkan orang dewasa jika berada di lingkungan yang sama.
Sementara itu, Sekretaris Satgas Siaga Bencana IDAI, dr Dimas Dwi Saputro, SpA, Subsp Respi(K), memaparkan sejumlah langkah mitigasi yang dapat dilakukan keluarga untuk mengurangi risiko paparan asap karhutla.
Langkah tersebut meliputi mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup pintu dan jendela saat udara luar tercemar, menggunakan masker yang sesuai bila harus keluar rumah, mencukupi kebutuhan cairan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi.
Keluarga juga dianjurkan menyiapkan tas siaga bencana serta memahami jalur evakuasi, titik kumpul, dan rencana kesiapsiagaan keluarga.
IDAI turut menekankan pentingnya memantau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sebagai salah satu dasar menentukan langkah perlindungan. Rekomendasi tersebut mempertimbangkan kelompok usia, mulai dari neonatus (0-28 hari), bayi (28 hari-12 bulan), balita (12-60 bulan), anak (5-12 tahun), hingga remaja (12-18 tahun).
Pada ISPU 0-50 (baik) hingga 51-100 (sedang), kelompok rentan dianjurkan mengurangi paparan asap. Ketika ISPU mencapai 101-199 (tidak sehat) hingga 200-299 (sangat tidak sehat), IDAI merekomendasikan pertimbangan evakuasi ke tempat dengan udara bersih atau lokasi aman berdasarkan indikasi medis, terutama bagi neonatus, bayi, dan balita dengan penyakit penyerta. Pemberian obat esensial dan suplementasi oksigen dilakukan sesuai indikasi medis.
Sementara itu, pada ISPU di atas 300 (berbahaya), evakuasi direkomendasikan bagi seluruh kelompok.

























































