Langkah kaki di trotoar Jalan Asia Afrika malam itu terasa agak lengang. Lampu-lampu kota memancarkan pendar kekuningan, menimpa sosok-sosok dengan gaun putih lusuh, wajah pucat penuh guratan merah, dan riasan seram yang siap membuat siapa saja terperanjat.
Alih-alih melempar teror yang mencekam, sosok-sosok yang biasa kita sebut "hantu" itu justru menyapa pejalan kaki dengan ramah. Bahkan, sesekali melempar seloroh kocak yang memecah kesunyian malam.
Berbeda dengan rekan-rekan mereka di dalam wahana yang memang digaji untuk mengejutkan pengunjung lewat jumpscare, para hantu di luar ini punya misi yang jauh lebih sederhana, yakni menghibur, mencairkan suasana, dan mengajak orang-orang tersenyum. Terutama, saat malam mulai larut dan suasana berubah sepi, seperti malam Kamis yang lengang saat hari kerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengunjung yang ingin berfoto bisa dihitung dengan jari. Tak ada tarif tetap atau paksaan. Mereka hanya membuka telapak tangan dengan senyuman ramah, bersandar pada keikhlasan orang yang lewat.
Sekilas, aktivitas mereka menyerupai pengamen jalanan, tetapi dikemas dengan totalitas seni peran dan kostum yang jauh lebih proper. Uniknya, tak ada tarif patok untuk berfoto bersama mereka.
"Bayar seikhlasnya saja," celetuk salah satu dari mereka santai.
Cerianya raut wajah di balik riasan seram itu seolah menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung yang melintas.
Di sinilah letak kedalaman cerita mereka. Di balik riasan menyeramkan yang butuh waktu hingga satu jam untuk meraciknya secara otodidak tanpa pelatihan formal apa pun, tersimpan sebuah kejujuran telanjang tentang kerasnya hidup.
Ketika ditanya alasan mengapa mereka memilih pekerjaan yang tak biasa ini, tawa-tawa kecil sempat mencairkan ketegangan. Ada yang berseloroh ingin awet muda, tetapi di balik candaan itu terselip kalimat yang menohok hati.
"Sebenarnya kita di sini bukan karena tertarik, tapi lebih ke bakat dan butuh," ujar hantu yang memerankan karakter Nenek Lampir.
Di tengah sempitnya lapangan pekerjaan hari ini, usia dan ijazah sering kali menjadi tembok tinggi. Namun di trotoar ini, mereka menemukan ruang untuk bernapas.
"Karena sekarang susah ya dapat pekerjaan. Di sini mah kita nggak pandang usia, tapi lebih ke punya skill," ujar hantu yang memerankan Suster Yuni Kece.
Jalan hidup masing-masing dari mereka pun unik. Ada yang diajak oleh ketua komunitas, dibawa oleh anggota keluarga yang dulunya juga sesama "penghuni" dunia malam, hingga ada yang nekat melamar seorang diri.
Dari latar belakang yang berbeda-beda itu, mereka melebur menjadi satu keluarga kecil di bawah terangnya lampu jalanan kota. Pada akhirnya, apa yang dilakukan para pemeran hantu Asia Afrika ini lebih dari sekadar mencari uang receh. Mereka adalah potret ketahanan hidup.
Di balik wajah pucat yang sengaja dibuat menyeramkan, tersimpan kehangatan manusia yang tulus untuk menghibur warga kota dan menyambung hidup dengan cara yang paling jujur, di atas dinginnya trotoar Bandung yang senantiasa setia mendengarkan cerita mereka.
























































Komentar Terbanyak
Kapolda Jateng Bantah Izin Konser Andrea Bocelli di Borobudur Dicabut!
Melihat Lagi Dukungan Menteri Pariwisata Terhadap Konser Andrea Bocelli
Polemik Konser Andrea Bocelli: Didukung Menteri Pariwisata-Ditolak MUI