"Main skateboard." Jawaban itu meluncur polos dari mulut Baskara Ali Nugraha ketika ditanya soal cita-citanya. Usianya baru empat tahun. Namun bagi bocah yang akrab disapa Iboy itu, papan skateboard bukan sekadar mainan.
Hampir setiap hari, papan beroda empat tersebut menjadi teman bermainnya di bawah Flyover Pasupati, Kota Bandung. Di tempat itu, tubuh mungil Iboy sudah terbiasa berdiri di atas papan.
Ia meluncur melewati sejumlah rintangan, mencoba menaklukkan rel, lalu kembali mengulang gerakan yang sama. Sesekali papan kehilangan keseimbangan. Tubuh Iboy pun jatuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ia tidak lama-lama meratapi jatuhnya. Papan diambil kembali dan latihan dilanjutkan. Keberanian menjadi salah satu modal yang membuat bocah empat tahun itu terlihat berbeda di antara anak-anak lain yang berlatih skateboard.
Sang nenek, Neti Nuryati (52), mengatakan ketertarikan Iboy terhadap skateboard bermula secara sederhana. Awalnya, Iboy hanya sering ikut dirinya pergi ke warung dan melihat orang-orang bermain skateboard di sekitar Pasupati.
"Pertama mah sering main gitu ya, main-main. Kan Ibu sering nongkrong di sini, dia suka lihat-lihat aja gitu. Terus ada om-om yang berhenti, dia pinjam. Pinjam dulu dia," kata Neti, belum lama ini.
Iboy, bocah .4 tahun yang jago bermain skateboard di bawah Flyover Pasupati, Bandung. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar) |
Pada awalnya, Iboy bahkan belum menggunakan skateboard sebagaimana mestinya. Ia hanya duduk atau berbaring di atas papan sambil memperhatikan orang-orang yang bermain di sekitarnya.
"Terus pertamanya mah nggak gitu, dia pakai kayak tidur, duduk, tidur. Lama-lama dia lihat-lihat om-omnya, jadi terus lihat. Dia langsung bisa sendiri ya," ujarnya.
Dari sekadar melihat, Iboy kemudian mulai mencoba sendiri. Tujuh bulan berselang, ia bertemu dengan Firman Edo (38), salah satu pelatih yang kemudian mulai mendampinginya.
"Pas sudah tujuh bulan, baru ketemu sama om ini. Ini sudah bisa sendiri. Ya sering lihatin om-omnya gitu kan dia mah. Jadi nggak diajarin, nggak. Terus sama om ini ketemu, baru dilatih," tutur Neti.
Firman mengatakan Iboy memang merupakan anak sekitar lingkungan tersebut. Ia menyebut Iboy sebagai akamsi alias anak kampung sini.
"Kalau Iboy kan ini rumahnya daerah sini nih, Akamsi (Anak Kampung Sini) kalau Iboy. Jadi Iboy datang ke sini main sama neneknya, neneknya ke tempat warung, Iboy-nya main skateboard," kata Firman.
Firman kemudian mencoba mendekati Iboy dan mengenalkannya lebih jauh kepada skateboard. Rupanya, Iboy langsung menyukai aktivitas tersebut.
"Terus saya coba rangkul, saya coba kenalin ke skateboard, akhirnya Iboy suka. Sampai sekarang main tiap hari," ujarnya.
Hampir empat hingga lima bulan terakhir, Iboy menjalani latihan dengan lebih intens. Di usianya yang masih sangat kecil, keberanian menjadi salah satu kelebihan yang paling terlihat.
"Iboy ini latihan intens ini udah hampir 4 bulan, 5 bulan. Tapi dia punya kelebihan, berani. Gak takut jatuh dia. Justru kalau gak didampingi malah bahaya. Kadang keberaniannya itu suka ngelewatin batas, malah jadi bahaya," tutur Firman.
Jatuh dari papan pun bukan sesuatu yang terlalu ditakuti Iboy. Menurut Neti, cucunya hampir tidak pernah mengeluh meski tubuhnya beberapa kali mengalami memar akibat terjatuh saat bermain.
"Iya, tapi dia mah nggak pernah ngeluh. Ini pernah ya sampai biru-biru (badannya), apa enggak pernah (ngeluh) dia mah. Terus we lanjut dia mah. Padahal sering jatuh, dari atas itu juga kan pernah. Tapi dia nggak pernah ngeluh," kata Neti.
Tangisan Iboy justru lebih sering muncul bukan karena terjatuh, melainkan karena kondisi tertentu yang membuat Iboy tidak nyaman.
Firman pun mengakui, tantangan dalam melatih Iboy bukan hanya soal teknik bermain skateboard. Ada satu hal lain yang harus dihadapi, yakni suasana hati anak berusia empat tahun.
"Kalau jatuh gak masalah, yang jadi masalah dia kayak ngambek gitu sering. Mood-nya naik turun. Biasanya kalau udah ngambek, tantrum lah, kayak pengen sesuatu tapi gak bisa diungkapin, akhirnya saya coba buat diemin, kadang buat kasih jajan baru dia naik lagi mood-nya, main lagi. Rata-rata anak kecil emang kayak gitu kalau latihan," tutur Firman.
Jika sedang dalam suasana hati yang bagus, Iboy bisa menghabiskan hampir seluruh harinya di sekitar arena skateboard. Ia bisa bermain hampir enam jam dalam sehari, meski tidak terus-menerus berada di atas papan.
"Kalau Iboy ini biasa main sehari hampir 6 jam, cuma sekalinya main tuh 15 menit, nongkrong lagi, ngobrol sama kakak-kakaknya, main lagi. Hampir seharian lah kalau dia lagi bagus mood-nya," kata Firman.
Iboy, bocah .4 tahun yang jago bermain skateboard di bawah Flyover Pasupati, Bandung. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar) |
Di bawah Pasupati, Iboy juga tidak sendirian. Saat ini ada sekitar 10 anak yang turun bermain skateboard. Dari seluruh anak yang berlatih, Iboy menjadi yang paling kecil.
"Kalau sekarang tuh kurang lebih ada 10 anak kecil. Dari usia 4 tahun, Iboy yang paling kecil," ujar Firman.
Bagi anak-anak yang baru mengenal skateboard, Firman tidak langsung memaksakan teknik. Mereka terlebih dahulu diajak menikmati papan dan merasa nyaman dengan aktivitas tersebut.
"Hampir sama semuanya buat pemula. Biasanya kalau anak kecil ini kita arahin dulu biar dia suka ke skateboard. Belum langsung teknis. Saya pribadi sih suka ngajak jalan-jalan anak di atas skate. Nah, kalau anaknya udah suka, baru saya latih teknis-teknisnya," katanya.
Menurut Firman, perkembangan kemampuan setiap anak berbeda. Keberanian dan kreativitas menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat proses belajar.
"Balik lagi tergantung anak atau orangnya ya. Biasanya kalau emang berani sama kreatif orangnya, cepat dalam waktu 1 tahun juga bisa. Tapi ya kalau misalkan anaknya agak sedikit penakut atau belum biasa jatuh, biasanya butuh waktu ya lebih dari 1 tahun," ucapnya.
Dalam waktu sekitar satu tahun, anak yang berlatih secara konsisten setidaknya dapat menguasai sejumlah teknik dasar. "1 tahun kalau targetnya basic ya kurang lebih nyampelah 10 trik ada. Dari mulai push sampai meloncat, 10 trik ada sampai 1 tahun," tutur Firman.
Bagi Neti, melihat keberanian Iboy menjadi alasan tersendiri untuk berharap sang cucu bisa berkembang lebih jauh. Ia pun tak menutup kemungkinan Iboy kelak menekuni skateboard sebagai atlet.
"Ya insyaallah mudah-mudahan kalau dianya cita-citanya pengen ini ya mudah-mudahan aja," kata Neti.
Tantangan Keterbatasan Fasilitas
Namun perjalanan Iboy dan anak-anak lainnya tidak hanya bergantung pada keberanian dan kemauan berlatih. Firman menilai perkembangan skateboard di Kota Bandung sebenarnya semakin baik. Bibit-bibit baru mulai bermunculan, sementara akses terhadap informasi dan perlengkapan juga semakin mudah.
"Kalau sekarang perkembangannya bagus ya, beda sama zaman dulu. Kalau sekarang banyak yang main. Banyak bibit kalau sekarang-sekarang mah. Beda sama zaman dulu karena sekarang-sekarang banyak fasilitas," ujarnya.
Menurutnya, kemudahan mendapatkan informasi melalui internet, termasuk YouTube, turut membantu anak-anak mengenal skateboard. Sejumlah tempat bermain juga tersedia, termasuk kawasan Pasupati dan Soreang.
Meski begitu, Firman menilai masih ada celah dalam penyediaan fasilitas, khususnya untuk anak-anak yang baru belajar.
"Ya ada di Bandung sebetulnya tempat yang proper, cuma dia jauh di Soreang. Terus propernya itu buat kelas atas ya, kelas profesional, buat latihan kelas profesional. Tapi buat kelas anaknya sendiri di sini justru kurang fasilitasnya," katanya.
Bukan hanya fasilitas, agenda kompetisi juga dinilai masih perlu diperbanyak untuk menjaga geliat skateboard di Kota Bandung.
"Event-event-nya masih kurang," ujar Firman.
Ia menyebut program pembinaan melalui KONI sebenarnya tersedia, termasuk untuk ajang Porprov maupun Porda. Namun menurutnya, keberadaan program tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan latihan yang memadai.
"Kalau dari KONI sih sebetulnya ada program Porprov, Porda, cuma ya balik lagi pelatihannya gak ada. Kayak punya program tapi serasa tidak punya program gitu," katanya.

























































