Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan dampak kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Meski keluhan akibat paparan singkat bisa membaik setelah seseorang menjauh dari sumber polusi, paparan berulang perlu diwaspadai karena berisiko mengganggu kesehatan paru.
Spesialis paru Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan pemulihan setelah terpapar polutan, termasuk asap karhutla, bergantung pada durasi paparan dan dampak yang ditimbulkan.
Jika paparan hanya berlangsung singkat, misalnya selama satu hingga dua jam, keluhan akibat iritasi seperti batuk dan sakit tenggorokan dapat pulih lebih cepat setelah seseorang meninggalkan lokasi yang tercemar dan menghirup udara yang lebih bersih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita hanya terpapar secara singkat dalam waktu pendek, kemudian habis itu meninggalkan tempat tersebut, sebenarnya recovery-nya lebih cepat," kata Prof Agus dalam tayangan detikSore, Selasa (20/10/2026).
Ia mencontohkan, seseorang yang mengalami keluhan setelah berada di wilayah terdampak asap karhutla selama satu hingga dua jam dapat mengalami pemulihan dengan cepat setelah berpindah ke lingkungan dengan udara bersih. Dalam kondisi tersebut, keluhan bahkan bisa membaik dalam waktu 1 x 24 jam.
Namun, kondisi berbeda dapat terjadi pada orang yang terpapar asap dan polutan hampir setiap hari. Menurut Prof Agus, paparan berulang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk penurunan fungsi paru.
"Problem berikutnya adalah kalau dia hampir terpapar tiap hari, terhirup tiap hari, maka akan ada efek jangka panjang yang dapat muncul, seperti gangguan fungsi paru, kemudian risiko terjadinya penyakit seperti asma," jelasnya.
Paparan polutan selama berbulan-bulan juga dapat meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan fibrosis paru, yakni kondisi ketika terbentuk jaringan parut yang membuat paru menjadi kaku dan mengganggu fungsinya.
Oleh karena itu, Prof Agus menyarankan bagi yang terpapar dalam jangka panjang untuk memperhatikan kondisi kesehatannya, termasuk setelah paparan berakhir dan kualitas udara kembali membaik.
Pemeriksaan kesehatan, terutama pada organ paru, dapat dilakukan untuk menilai apakah terdapat gangguan akibat paparan tersebut. Pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan antara lain rontgen dada dan uji fungsi paru menggunakan spirometri.
"Tentu bagi orang yang sudah terpapar, walaupun sudah melewati masa terpapar itu, sudah menghirup udara sehat, lakukan pemeriksaan kesehatan khususnya pada paru," tuturnya.
Selain paru, pemeriksaan organ lain juga penting karena paparan polutan dapat berdampak pada jantung dan organ tubuh lainnya.
Simak juga Video: Pesan Dokter Paru: Masker Tidak Boleh Dibasahi!

























































