Seorang anak berusia 10 tahun di Amerika Serikat, yang kala itu merupakan siswi kelas lima, mengeluh sakit perut. Tak disangka, terdapat tumor besar di perutnya dan dirinya mengidap kanker ovarium.
Dikutip dari laman People Health, peristiwa itu terjadi sehari sebelum liburan musim semi pada April 2024. Anak perempuan bernama Meher Shukla ini merasa perutnya sangat sakit ketika berada di sekolah.
"Perutku sakit sekali. Tapi aku tidak mau bolos sekolah karena kalau tidak, aku tidak bisa pergi ke pesta dansa kelas lima malam itu," kata Meher, yang kini berusia 12 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di pesta dansa, semua temanku berlarian dan bermain. Aku berusaha bersenang-senang, tetapi aku kesakitan," tambahnya.
Keesokan harinya, perutnya masih terasa sangat sakit. Meher kemudian memberi tahu ibunya, Hiral Shukla. Dia juga merasakan benjolan keras di perut dan meminta sang ibu untuk merabanya. Ketika merasakan sesuatu yang tidak normal, Meher kemudian dibawa ke dokter untuk diperiksa.
"Dokter anak mengatakan bahwa biasanya pada anak-anak, itu hanya kotoran yang tersangkut di dalam tubuh mereka. Tetapi begitu dia meraba perutku, dia memberi isyarat kepada orang tuaku bahwa aku perlu operasi. Itu membuatku takut. Sangat takut," katanya.
Beberapa hari kemudian, dokter menelepon dan meminta Meher dibawa ke unit gawat darurat (UGD). Di sana, dia menjalani CT scan dan MRI. Dokter menduga terdapat massa jinak yang dapat diangkat melalui operasi minimal invasif di perutnya.
Namun, ahli bedah Meher memutuskan untuk melakukan operasi terbuka karena ukuran dan lokasi tumor tersebut. Tumor berukuran 17 cm itu berasal dari ovarium kiri dan menyatu dengan rahimnya.
"Tumor itu sangat besar dan tersangkut jauh di dalam panggulnya," kata Kepala Bedah Anak Victoriya Staab, MD, FACS, FAAP.
Meher didiagnosis mengidap disgerminoma stadium 3, jenis kanker ovarium yang jarang ditemukan pada perempuan berusia muda.
"Para dokter terkejut," kata Hiral. "Mereka tidak menyangka ada sesuatu yang sebesar itu di dalam tubuhnya," tambahnya.
Dokter khawatir tumor tersebut tidak dapat diangkat dengan aman tanpa merusak rahim Meher. Mereka ingin menghindari histerektomi pada anak berusia 10 tahun yang dapat membuatnya mengalami menopause.
Sebagai gantinya, Meher menjalani kemoterapi untuk mengecilkan tumor, sehingga dokter dapat mengangkat tumor, ovarium kiri, dan sebagian tuba falopi. Dengan tindakan tersebut, peluang Meher untuk memiliki anak di masa depan tetap terjaga.
"Dia memberikan respons yang luar biasa. Kami sangat senang melihat bahwa itu berhasil," kata Staab, yang terkesan dengan sikap Meher sepanjang perjuangannya melawan kanker.
"Senyumnya benar-benar menular," kata Staab. "Dia adalah bintang yang bersinar terang."
Meher kembali masuk sekolah pada Oktober 2024. Kini, di usia 12 tahun, Meher telah menyelesaikan perawatan kanker.
"Saya ingin menjadi ahli hematologi/onkologi anak. Saya ingin membantu anak-anak, merawat mereka, dan membuat mereka lebih sehat," katanya.

























































