Belakangan ini, polemik mengenai sulitnya mencari pekerjaan sedang menjadi topik hangat di jagat media sosial. Maraknya jumlah lulusan perguruan tinggi atau dikenal juga dengan istilah fresh graduate dinilai tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang tersedia.
Hal tersebut dibuktikan melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik. Survei menunjukkan sebanyak 14,31% lulusan program D4 hingga S3 masih menganggur yang jika dikalkulasikan jumlahnya sekitar satu juta orang.
Salah seorang sarjana di bidang Jurnalistik asal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Davina Salsabila mengaku telah mencari pekerjaan sejak belum dinyatakan lulus. Hingga saat ini, ia masih berupaya agar mendapatkan pekerjaan tetap yang sesuai dengan bidangnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena selama kuliah aku sudah belajar dan punya pengalaman di bidang jurnalistik, seperti menulis berita, melakukan wawancara, dan membuat konten. Jadi tentunya berharap bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan apa yang sudah dipelajari di bangku perkuliahan," ujarnya saat diwawancarai.
Walau begitu, Davina tidak menutup kesempatan untuk mencoba hal baru apabila menemukan lowongan pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusannya, asalkan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Ia mengaku sempat bekerja sebagai admin online shop selama masa penyusunan tugas akhir.
"Selama cari kerja, aku cukup rutin cari informasi lowongan lewat berbagai platform. Aku juga terus memperbaiki CV dan portofolio dengan cara menambah pengalaman melalui kegiatan atau pelatihan yang bisa meningkatkan kemampuan diri. Jadi, sambil nunggu dapat pekerjaan tetap berusaha mengembangkan skill supaya lebih siap ketika ada kesempatan kerja," ungkapnya.
Lulusan sarjana lainnya, Kya Dewi juga mengalami hal serupa. Lapangan pekerjaan yang terbatas menjadikannya adaptif. Ia mengaku tengah mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia pekerjaan dengan kembali belajar dan mengasah kemampuan di luar bidang jurnalistik.
"Tentu minat cari pekerjaan yang sesuai jurusan, tapi gak menutup pintu untuk kemungkinan pekerjaan lain. Aku mau terus belajar hal-hal lain supaya peluang kerja gak terbatas di situ-situ aja. Mulai aktif lagi belajar bahasa asing sambil terus upgrade soft skill, terutama kemampuan kerja dalam tim, perlu membiasakan diri lagi," ucapnya saat diwawancarai.
Sempat terbesit keinginan di benak Kya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Walau begitu, ia merasa perlu mengumpulkan pengalaman kerja dan tabungan terlebih dahulu sebelum meneruskan impiannya itu.
"Menurut aku manusia itu makhluk yang akan terus belajar seumur hidup. Jadi, kalau punya skill atau ilmu tertentu ya bagus banget untuk dimanfaatkan. Tapi aku mau terus belajar hal-hal lain, mungkin dari bidang yang lain juga, supaya peluang kerja gak terbatas di situ-situ aja," tambahnya.
Pengalaman serupa pun dialami oleh Vidi Alaina, seorang sarjana lulusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Vidi sudah berusaha mencari pekerjaan sejak awal tahun 2026, walau ia telah menetapkan diri untuk tidak menjadikan jenjang pendidikannya sebagai karier di masa yang akan datang.
Menanggapi fenomena maraknya lowongan pekerjaan dengan posisi magang alih-alih pegawai tetap, Vidi mengaku cukup kesulitan sebab menurut pengalamannya, banyak perusahaan yang membuka posisi magang untuk pekerjaan yang setara dengan karyawan tetap. Apalagi, status sebagai pegawai magang tidak dapat menjamin tunjangan, keselamatan kerja, dan kepastian jenjang karier bagi fresh graduate ke depannya.
"Akan tetapi, di sisi lain magang memiliki manfaat untuk menambah pengalaman dan relasi, terutama bila programnya jelas, ada bimbingan, dan ada peluang untuk diangkat menjadi karyawan tetap. Hal tersebut bagi saya sangat memengaruhi keputusan saya dalam melamar pekerjaan," jelas Vidi lebih lanjut.
Para sarjana yang baru saja dinyatakan lulus sama-sama berharap kepada pemerintah untuk menyediakan jumlah lapangan pekerjaan dan membantu mengembangkan kemampuan fresh graduate. Tidak hanya sebatas menyediakan lapangan pekerjaan, tetapi juga membantu masyarakat mengembangkan keterampilan sesuai bidangnya serta memantau keberlanjutan program perekrutan kerja secara berkala.
"Semoga pemerintah bisa lebih serius memperluas lapangan pekerjaan yang layak bagi fresh graduate. Pemerintah perlu mengawasi praktik perekrutan, terutama lowongan magang yang menggantikan posisi karyawan tetap, agar tidak merugikan job seeker. Selain itu, saya berharap ada lebih banyak pelatihan kerja dan program pengembangan keterampilan yang terjangkau serta sesuai kebutuhan industri, supaya fresh graduate yang ingin bekerja siap bersaing," tutup Vidi.
(yum/yum)






















































