Kecelakaan beruntun terjadi di Tol Wiyoto Wiyono Km 20, Ancol Barat, Jakarta Utara. Pemicunya karena pengemudi hilang konsentrasi gara-gara kartu tol terjatuh.
Kasat Patroli Jalan Raya (PJR) Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Reiki Indra mengatakan kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 07.00 WIB pagi tadi. Kecelakaan melibatkan mobil Wuling Binguo EV bernopol B-1891-SNV, truk kontainer nopol B-9871-GYU, dan bus Transjakarta bernopol V-7205-TGX.
"(Dugaan penyebab) pengemudi KR-1 (Wuling) tidak fokus dalam berkendara, pengemudi sedang mengambil kartu e-Toll yang terjatuh di lantai mobil," kata Kasat Patroli Jalan Raya (PJR) Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Reiki Indra Bramanggala, dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil keterangan dari pengemudi yang terlibat kecelakaan tersebut di atas KR-1 (Wuling) datang dari GT Ancol Barat menuju arah Pluit," imbuh Reiki.
Setiba di lokasi, pengemudi Wuling berinisial WS bermaksud mengambil kartu e-Toll yang jatuh di lantai mobil. Pengemudi WS kehilangan kendali sehingga menabrak truk kontainer.
Setelah itu, mobil Wuling tersebut oleng ke kanan dan masuk lajur 1. Di saat bersamaan, bus TransJ melaju dari arah Tanjung Priok ke arah Pluit di lajur 1.
"Sehingga KR-1 (Wuling) menabrak KR-3 (TransJ) dan terjadilah kecelakaan lalu lintas," paparnya.
Lalin di Ancol Jakut Macet Imbas Mobil Kecelakaan hingga Ringsek Foto: Dok. Istimewa Twitter TMC Polda Metro Jaya |
Mobil listrik Wuling baru berhenti dengan posisi melintang di lajur 1 dengan kepala menghadap selatan. Akibat kejadian tersebut, mobil listrik mengalami kerusakan parah di bagian bodi, sementara truk kontainer mengalami patah as roda belakang, dan bus TransJ rusak di bagian bodi samping kiri.
"Korban pengemudi Wuling, WS, mengalami luka pada bagian kepala luka robek dan sudah dibawa ambulans ke RS Hermina Sunter, Jakarta Utara," katanya.
Soal bahaya multitasking saat mengemudi sudah dimuat dalam laporan berjudul The Battle for Attention yang disusun oleh Dr. Neale Kinnear dan Dr. Alan Stevens dari Transport Research Laboratory (TRL), serta Neil Greig dari Institute of Advanced Motorists (IAM).
Kesimpulan dalam laporan itu, menyetir adalah proses yang rumit dan butuh kerja otak yang intensif. Jadi, saat menyetir sambil mengerjakan hal lain, fokus bakal terbagi dan tidak bisa sepenuhnya memperhatikan jalanan. Akibatnya, otak bisa 'salah proses' atau lambat merespons, yang bikin kita kehilangan kendali mobil dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain di jalan.
"Ini adalah bukti, jika memang diperlukan, bahwa multitasking dan mengemudi sama sekali tidak bisa disatukan. Meskipun ada banyak gangguan yang menggoda pengemudi, setiap individu perlu menyadari bahwa ponsel, internet, atau iPod sama sekali tidak penting--mengemudi adalah satu-satunya aktivitas yang harus memenuhi pikiran Anda saat berada di balik kemudi," kata Sarah Sillars, Chief Executive Officer IAM.
"Sangat penting bagi kita untuk bekerja sama dengan pemerintah, produsen mobil, dan pendidik untuk menyampaikan fokus baru pada pelatihan pengemudi dan keselamatan jalan raya-serta memastikan masyarakat paham bahwa gangguan saat mengemudi bisa berakibat fatal," tambah dia.
Penampakan Mobil Listrik Ringsek Usai Tabrak Truk dan TransJ di Tol Ancol Foto: Dok. Istimewa |
Perlu diketahui, jangan coba meraba-raba atau merunduk mencari kartu sambil mobil masih berjalan. Ini sangat berbahaya dan bisa memicu kecelakaan.
Jika kartu benar-benar hilang dan tidak ada cadangan berhentilah tepat di Gardu Tol Otomatis (GTO).Tekan tombol bantuan yang ada di mesin GTO atau lambaikan tangan ke arah bilik petugas.
Pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengimbau agar pengendara selalu konsentrasi ketika memacu kendaraannya khususnya di jalan tol. Bahwa, saat kecepatan 60 km/jam, hilang konsentrasi saat berkendara satu detik saja mobil sudah keluar jalur.
"Patut diketahui, ketika kita berada di kecepatan 80 km/jam, itu tiap satu detiknya mobil melaju 22 meter. Sedangkan 100 km/jam, itu 27 sampai 28 meter per detik. Maka, ketika kehilangan konsentrasi satu detik saja entah karena teleponan, asap rokok, dengar radio, dan lain sebagainya, mobil sudah meluncur kurang lebih 8 meter (saat 100 km/jam kecepatannya)," kata Justri saat dihubungi detikOto belum lama ini.
"Sedangkan kalau kecepatan mobil di 60 km/jam, itu kemungkinan mobil keluar jalur ketika dia kurang berkonsentrasi dan tiba-tiba ada halangan di depannya," lanjutnya.
"Perlu diingat, ketika kita di jalan bebas hambatan atau tol, bukannya kita lebih aman tapi jauh lebih berbahaya. Karena semua kecepatan kendaraan di sana itu tinggi sekali, sedangkan kalau di jalan biasa kan kebanyakan kondisi stop and go. Sehingga kejadian kecelakaan beruntun memang lebih rentan terjadi di tol," tutupnya.


























































