Florida Selatan memiliki masalah ular raksasa yang menjadi hama. Kawasan ini merupakan habitat bagi populasi besar piton Burma liar, spesies invasif yang memangsa mamalia dan burung setempat.
Upaya untuk menyingkirkan piton-piton ini utamanya difokuskan pada menangkap sebanyak mungkin ular, alih-alih menargetkan individu tertentu. Namun hal itu mungkin akan segera berubah.
Studi baru peneliti Institute of Food & Agricultural Sciences, University of Florida, mengembangkan alat untuk membantu pemburu piton mengidentifikasi ular yang punya pengaruh terbesar terhadap pertumbuhan populasi. Dengan menyingkirkan individu yang tingkat perkembangbiakannya tinggi, efek jangka panjang jauh lebih berdampak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penelitian kami sebelumnya menganggap semua piton Burma memberikan kontribusi yang sama terhadap populasi, tapi menyingkirkan betina terbesar yang pernah kami tangkap sangatlah berbeda dengan menyingkirkan ular kecil yang mungkin tidak akan bertahan hidup hingga tahun depan," kata ahli ekologi Alex Romer, penulis utama studi tersebut.
Populasi piton Burma di Florida terutama bermula dari ledakan perdagangan hewan peliharaan eksotis pada abad ke-20. Banyak di antaranya yang kabur atau dilepaskan oleh pemilik yang tidak mampu atau tidak mau lagi merawat.
Saat ini, perkiraan dari US Geological Survey menunjukkan bahwa ada puluhan ribu piton Burma di kawasan Greater Everglades saja. Ular-ular ini tidak berbisa tetapi dapat tumbuh hingga sepanjang 4,5 meter atau lebih dan sering memakan spesies asli yang terancam punah.
Untuk mengatasi situasi ini, peneliti dalam studi tersebut mengembangkan alat Indeks Penyingkiran Berbobot (Weighted Removal Index/WRI), yang menetapkan nilai ekologis pada setiap piton yang ditangkap.
"Gagasannya adalah betina besar mungkin bernilai 100 poin ekologis arbitrer, sedangkan ular kecil mungkin hanya bernilai lima. Hal ini memberi tahu Anda berapa banyak ular kecil yang perlu Anda tangkap untuk menyamai dampak dari menyingkirkan satu betina besar," jelas Romer yang dikutip detikINET dari BBC.
Harapannya, program penyingkiran piton di bawah kontrak negara bagian Florida akan mendapat manfaat dari penggunaan alat WRI untuk mengukur dampak tiap penangkapan, sehingga proses kerja lebih terstruktur dan efektif.
Studi ini juga menemukan upaya penyingkiran bisa membuahkan hasil lebih baik pada waktu tertentu. Umumnya, lebih sedikit ular tertangkap di Januari dan Februari misalnya, tapi ular yang tertangkap pada rentang waktu tersebut kemungkinannya lebih tinggi sebagai jantan dan betina dewasa.
"Jika Anda hanya menghitung jumlah piton yang ditangkap kontraktor, bulan Januari dan Februari tampak tak begitu penting. Namun, kala dimasukkan pembobotan demografis, bulan-bulan tersebut tiba-tiba terlihat jauh lebih penting," paparnya.
(fyk/afr)















































