Kematian Zulkarnain Abdil Aziz (10), bocah difabel di Surabaya yang diduga menjadi korban perundungan ternyata bukan pertama kali di-bully. Ayahnya, Selaras Abdul, mengungkap dugaan perlakuan terhadap anaknya bukan kali pertama terjadi. Sepekan sebelum tragedi, keluarga mengaku pernah menemukan tali tampar dikalungkan di pundak korban.
Zulkarnain meninggal dunia pada 12 September 2026 setelah ditemukan dalam kondisi sekarat di depan rumahnya di Jalan Tambak Medokan Ayu XI, Surabaya. Keluarga menduga dua anak tetangganya yang masih berusia 10 dan 8 tahun terlibat dalam peristiwa tersebut.
Cerita kematian Zulkarnain sempat viral di media sosial setelah kedua orang tuanya menceritakan kejadian yang menimpa anak mereka dan meminta kasus itu mendapat perhatian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
detikJatim menelusuri peristiwa tersebut. Zulkarnain merupakan anak kedua dari pasangan Selaras Abdul dan Nurul Fadilah. Pria yang akrab disapa Laras itu menceritakan kejadian bermula saat istrinya pulang berjualan dari pasar pada 12 September 2026 sekitar pukul 09.20 WIB.
Saat tiba di rumah, istrinya mendapati Zulkarnain terjatuh dari kursi roda dalam kondisi wajah membiru. Laras yang sedang tertidur langsung terbangun setelah mendengar teriakan istrinya.
"Saya di dalam, langsung kaget. Saya buka pintu, langsung saya ke depan sana," kata Laras kepada detikJatim, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Laras, saat diperiksa, terdapat tali sepatu yang menjerat leher anaknya. Ia kemudian melepas dan mengendurkan tali tersebut.
"Habis itu saya ambil tali sepatunya. Saya kendorin," katanya.
Karena Zulkarnain masih bernapas, Laras meminta bantuan warga untuk membawa anaknya ke RSUD Eka Candrarini. Namun, Zulkarnain akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Merasa penasaran dengan penyebab kematian anaknya, Laras kemudian memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang terpasang di jalan sekitar rumah. Dari rekaman itu, ia melihat dua anak tetangganya berinisial K (10) dan F (8) berada di depan gang menuju rumahnya.
"Pukul 08.15 WIB pagi itu tanggal 12 September, kedua anak ini masuk," ujar Laras.
"Mereka anak kampung sini, yang satu, satu gang dengan saya, satunya lagi gang sebelah," imbuhnya.
Berdasarkan rekaman tersebut, Laras menduga kedua anak itu berkaitan dengan peristiwa yang menimpa Zulkarnain. Ia mengaku sempat menanyakan dugaan keterlibatan keduanya kepada masing-masing orang tua. Namun, menurutnya, kedua pihak justru saling melempar tanggung jawab.
"Yang F ini ibunya ngaku ke saya, F ini cuma diajak sama K. Tapi orang tuanya K ngomong sama saya, K ini diajak sama F," tuturnya.
Dugaan Laras juga didasari pengalaman sebelumnya. Ia menyebut kedua anak tersebut kerap mengganggu dan merundung Zulkarnain yang memiliki keterbatasan fisik dan komunikasi.
Sekitar sepekan sebelum Zulkarnain meninggal, Laras mengaku menemukan tali tampar yang dikalungkan di pundak anaknya. Kondisi Zulkarnain yang tidak bisa berbicara dan memiliki keterbatasan penglihatan membuatnya kesulitan mengetahui secara pasti apa yang dialami anaknya.
"Seminggu sebelumnya ada tampar di pundak anak saya, pundaknya itu dikalungkan tampar, saya tanya dapat dari mana, tapi anak saya tidak bisa ngomong, pengeliihatannya juga tidak jelas," tutur Laras.
Kasus kematian Zulkarnain kemudian dilaporkan ke Polrestabes Surabaya pada hari kejadian. Menurut Laras, seorang anak berinisial K yang berusia 10 tahun telah ditetapkan sebagai tersangka. Sementara itu, anak berinisial F yang berusia 8 tahun tidak dapat ditetapkan sebagai tersangka karena usianya.
"Mereka sudah diproses. Cuma memang tidak bisa dipidana karena di bawah umur menurut UU. Sudah dijadikan tersangka yang umur 10 tahun dan masih menunggu proses rehabilitasi dari Dinsos," ujar Laras.
Meski demikian, Laras menduga F tidak ditetapkan sebagai tersangka karena merupakan anak asuh ketua RT setempat. Dugaan tersebut disampaikan Laras sebagai bagian dari keberatannya terhadap penanganan perkara.
Ia berharap kedua anak yang diduga terlibat mendapat pembinaan, bukan hanya salah satunya. Menurutnya, pembinaan diperlukan agar mereka memahami dampak perbuatan dan tidak merugikan orang lain di kemudian hari.
"Saya menuntut kedua pelaku kalau bisa dibina sampai dewasa, sampai dia bisa mengerti mana yang hak dan batil, mana yang baik dan jelek agar tidak merugikan orang lain, jangan cuma satu anak," tegas Laras.
Selain menuntut keadilan, Laras juga mengaku masih menyimpan pertanyaan terkait proses autopsi dan hasil pemeriksaan jenazah anaknya. Ia menyebut belum memperoleh penjelasan secara terperinci mengenai hasil visum maupun penyebab pasti kematian Zulkarnain.
Laras kembali menyoroti kondisi anaknya ketika ditemukan. Selain wajah membiru dan adanya tali sepatu di leher, ia menyebut mulut Zulkarnain juga dijejali sabun colek serta daun lamtoro.
Hingga saat memberikan keterangan kepada detikJatim, Laras mengaku belum mendapatkan penjelasan rinci mengenai temuan tersebut dari hasil pemeriksaan jenazah.
"Enggak dikasih tahu secara detail. Hasilnya itu kan habis dijerat pakai tali sepatu, dijejali sabun colek, terus ditaburi lantoro," tandas Laras.























































