Tradisi musim gugur di China ternyata unik, yaitu mencuri labu untuk pengantin baru hingga makan daging demi menjaga kesehatan.
Selama musim gugur, warga China memiliki beragam tradisi unik yang diwariskan turun-temurun. Mulai dari kebiasaan mencuri labu hingga menyantap makanan berlemak, semuanya menyimpan makna.
Tradisi ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap kesuburan, kesehatan, dan keberuntungan. Beberapa kebiasaan bahkan masih populer hingga kini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, di balik tradisi tersebut, ada sejarah dan filosofi yang menarik untuk ditelusuri. Tak sedikit pula kebiasaan yang perlu disesuaikan dengan gaya hidup modern agar tetap bermanfaat bagi kesehatan.
Dikutip dari South China Morning Post (18/10) berikut faktanya.
1. Tradisi Curi Labu untuk Pengantin Baru
Labu pumpkin. Ilustrasi Foto: Getty Images/ASMR |
Pada masa Dinasti Qing (1644-1912), masyarakat di sejumlah wilayah China punya tradisi unik saat Festival Pertengahan Musim Gugur.
Sekelompok anak muda akan menyelinap ke ladang untuk mengambil labu pada malam perayaan. Kebiasaan ini bukan dianggap sebagai tindakan kriminal, melainkan tradisi yang ditoleransi petani.
Praktik tersebut bahkan semakin populer di kawasan pedesaan pada era Republik China (1912-1949).
Labu yang diambil kemudian diberikan kepada pasangan pengantin baru sebagai simbol harapan akan keturunan. Dalam tradisi ini, pengantin perempuan biasanya memakan bagian ujung tangkai labu.
2. Labu Jadi Simbol Kesuburan dan Banyak Keturunan
Tradisi memberikan labu kepada pengantin baru berkaitan dengan permainan kata dalam bahasa China.
Bunyi kata 'labu' dianggap menyerupai kata yang bermakna anak laki-laki sehingga dikaitkan dengan kesuburan dan kemakmuran keluarga.
Di sejumlah wilayah China bagian utara, labu juga diletakkan di bawah selimut pengantin. Kebiasaan ini dipercaya membawa keberuntungan bagi keturunan pasangan tersebut.
Sejarawan pertanian Li Xinsheng menduga tradisi ini mungkin telah menggunakan jenis melon sebelum Dinasti Qing.
Setelah labu diperkenalkan ke China, buah ini semakin dikaitkan dengan kesuburan karena tumbuh subur dan memiliki banyak biji.
3. Tradisi Menimbang Berat Badan Saat Awal Musim Gugur
Masyarakat China juga mengenal tradisi sticking autumn fat atau menambah asupan makanan berlemak saat musim gugur.
Kebiasaan ini berkaitan dengan Liqiu, salah satu dari 24 penanda musim dalam kalender tradisional China yang menandai awal musim gugur.
Pada masa lalu, masyarakat akan menimbang berat badan menggunakan timbangan gantung berukuran besar.
Mereka duduk di keranjang yang digantung pada timbangan, lalu diangkat oleh dua orang sambil diiringi ucapan keberuntungan.
Mereka yang kehilangan berat badan selama musim panas kemudian dianjurkan mengonsumsi makanan lebih kaya energi, terutama daging.
Tujuannya untuk memulihkan kondisi tubuh dan mempersiapkan diri menghadapi musim dingin.
4. Tradisi Makan Daging Kini Berubah Jadi Tren Kuliner
Ilustrasi makan daging. Foto: Getty Images/Enes Evren |
Tradisi sticking autumn fat berakar dari pengobatan tradisional China yang menekankan pemulihan energi tubuh. Namun, maknanya kini bergeser menjadi cara menyambut musim gugur dengan menikmati makanan favorit.
Di media sosial China, banyak pengguna membagikan momen menikmati minuman susu teh pertama pada musim gugur hingga hidangan lezat sebagai hadiah setelah bekerja keras.
Sebagian bahkan memberikan camilan tambahan kepada hewan peliharaan mereka. Tren ini membuat tradisi lama hadir dalam bentuk yang lebih modern dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Meski begitu, kebiasaan makan lebih banyak tidak selalu sesuai untuk semua orang.
5. Dokter Ingatkan Risiko Makan Berlebihan
Dokter Xia Zhiping mengingatkan kondisi masyarakat modern berbeda dari era pertanian dahulu. Saat ini, banyak orang menjalani pekerjaan sedentari dan kurang melakukan aktivitas fisik.
"Orang modern lebih rentan mengalami kelebihan nutrisi, kelebihan berat badan, dan obesitas. Tradisi 'sticking autumn fat' tidak cocok untuk semua orang," ujar Xia dalam sebuah forum kesehatan pada September.
Xia juga memperingatkan bahwa konsumsi makanan tinggi lemak secara berlebihan dapat meningkatkan risiko perlemakan hati, kadar lemak darah tinggi, dan ketidakstabilan gula darah.
Karena itu, tradisi kuliner musiman sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan pola hidup masing-masing.
Simak Video "Mengulik Khasiat Alpukat untuk Kesehatan Kulit"
[Gambas:Video 20detik](raf/adr)




























































Cross Platform Ad Influencer Platforms Performance Master Cross Platform Decisions Features Screen
80 Timeless Everyday Moves 60 Smart Life Practical Integrate