Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menjadi sorotan dunia. Pulau Borneo bukan sekadar tempat hidup manusia, tapi juga hutan lindung satwa terancam punah.
Karhutla di Kalimantan mulai terdeteksi sejak pertengahan Juli hinga kini, karena memasuki puncak musim kemarau. Berdasarkan rekapitulasi data Kementerian Kehutanan dan BPBD di berbagai provinsi, total luas areal yang terbakar di kawasan Kalimantan diperkirakan telah melampaui puluhan ribu hektare.
Wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mencatatkan dampak terparah. Kobaran api yang membakar vegetasi gambut hingga menembus benteng pertahanan ekosistem vital kini mulai mengancam kawasan-kawasan konservasi penting, termasuk Taman Nasional Tanjung Puting, Taman Nasional Sebangau, hingga habitat penyangga di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan laporan publikasi resmi Direktorat General Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian LHK (Kemenhut) serta IUCN Red List, karhutla di Kalimantan secara langsung menghancurkan habitat, merusak pasokan pangan, serta menyebabkan cedera pernapasan hingga kematian langsung bagi satwa-satwa terancam punah.
Berikut 6 daftar satwa liar terancam punah di hutan Borneo:
1. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus)
- Status Konservasi: Kritis / Kritis Punah (Critically Endangered)
- Dampak Karhutla: Kebakaran yang melahap kawasan hutan primer dan gambut memaksa orangutan kehilangan pepohonan untuk bersarang dan mencari makan. Selain risiko terbakar langsung, hirupan asap pekat memicu penurunan lemak tubuh parah serta infeksi ISPA. Kondisi ini sering kali mendesak mereka keluar menuju pemukiman atau perkebunan warga sehingga rentan memicu konflik.
2. Bekantan (Nasalis larvatus)
- Status Konservasi: Terancam Punah (Endangered)
- Dampak Karhutla: Bekantan sangat bergantung pada ekosistem lahan basah, rawa gambut, dan hutan mangrove riparian. Kebakaran lahan di sekitar wilayah penyangga dan kawasan hutan pesisir/sungai kerap menyebabkan kawanan bekantan terjebak api saat mencoba menyelamatkan diri dari pohon yang terbakar.
3. Owa Kalimantan / Owa Kalawat (Hylobates muelleri)
- Status Konservasi: Terancam (Endangered)
- Dampak Karhutla: Sebagai primata arboreal yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di tajuk pohon (canopy), terputusnya jalur jelajah akibat kebakaran hutan membuat Owa Kalawat terisolasi. Paparan asap tebal juga berdampak mendalam pada sistem pernapasan primata ini.
4. Beruang Madu (Helarctos malayanus)
- Status Konservasi: Rentan (Vulnerable)
- Dampak Karhutla: Kebakaran menghancurkan pepohonan sarang lebah dan sumber buah-buahan hutan yang menjadi pakan utamanya. Hancurnya vegetasi tanah juga membuat beruang madu terdesak keluar dari area hutan untuk mencari makan.
5. Macan Dahan Kalimantan (Neofelis diardi)
- Status Konservasi: Rentan (Vulnerable)
- Dampak Karhutla: Sebagai predator puncak di darat, hilangnya tutupan vegetasi dan terbunuhnya atau terdesaknya hewan mangsa kecil, seperti rusa atau kancil, akibat api mengganggu rantai makanan serta menurunkan daya jelajah macan dahan secara drastis.
6. Rangkong Gading / Burung Enggang (Rhinoplax vigil)
- Status Konservasi: Kritis / Terancam Punah (Critically Endangered)
- Dampak Karhutla: Kebakaran menumbangkan pohon-pohon berukuran besar dan tua yang memiliki lubang alami, tempat wajib bagi burung enggang untuk bersarang dan berkembang biak.


























































