China meluncurkan roket Zhuque-2E yang membawa 10 satelit lepas landas dari zona percontohan inovasi ruang angkasa komersial, Dongfen, Rabu (14/10/2026) pukul 19.40 waktu Beijing. Kesepuluh satelit tersebut dinyatakan sudah ditempatkan ke orbit yang ditentukan.
Dilansir Xinhua, satelit-satelit tersebut merupakan bagian dari Star Compute, yaitu proyek ambisius pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di ruang angkasa, yang akan terdiri dari 2.800 satelit komputasi.
Setelah perdana diluncurkan pada Mei tahun lalu, kelompok satelit ketiga rencananya akan ditempatkan di orbit pada 2026. Per 2030, pembangunan jaringan 1.000 satelit ditargetkan selesai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satelit hasil pengembangan perusahaan dirgantara komersial Adaspace Technology (ADAspace) tersebut membawa muatan komputasi, muatan komunikasi laser antarsatelit dan satelit-ke-bumi berkecepatan tinggi, kamera low-light, dan peralatan lainnya.
Menurut ADAspace, misi ini bertujuan untuk membantu mempercepat pengembangan teknologi dan aplikasi komersial komputasi berbasis ruang angkasa, dikutip dari Anadolu Agency.
Di orbit, muatan-muatan satelit tersebut akan digunakan untuk menguji teknologi-teknologi utama seperti sistem pendingin cairan yang bersirkulasi pada tingkat 10.000 watt, sayap pendingin radiasi sangat besar yang dapat dilipat, dan jaringan komunikasi laser domain penuh; serta melatih model-model AI dasar.
Sebelumnya, pada Januari 2026, ADAspace mengumumkan bahwa pihaknya sudah menggunakan model AI Qwen3 milik Alibaba di atas jaringan komputasi orbitalnya. Dengan penempatan ini, pemrosesan AI bisa berlangsung di luar angkasa.
Buat Apa Satelit Komputasi AI di Ruang Angkasa?
Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China tengah mempercepat pengembangan ekosistem industri komputasi ruang angkasa. Pemerintah China dalam hal ini akan mendukung penelitian futuristik tentang komputasi ruang angkasa.
Bertahap, pemerintah juga membangun sistem standar yang meliputi perangkat keras, perangkat lunak, jaringan, dan keamanan; serta mendorong penelitian dan pengembangan teknologi serta produk seperti chip tahan radiasi ruang angkasa dan komunikasi laser antarsatelit.
Dikutip dari laman The State Council Information Office China, komputasi berbasis darat (Bumi) memiliki sejumlah masalah mendasar. Hal tersebut disampaikan peneliti Yan Zhiyong dari China Telecom Cloud Technology Co., Ltd., berdasarkan laporan studinya yang dipresentasikan di Hari Antariksa China 2026, Jumat (24/4/2026) lalu.
Hasil penelitian Yan menunjukkan, pusat data global mengonsumsi 1,5 persen dari pembangkit listrik sedunia. Sekitar 40 persennya digunakan hanya untuk fungsi pendinginan, sehingga efisiensi energi sulit dilakukan
Sementara itu, 70 persen daratan dunia dan 95 persen lautan merupakan zona buta jaringan (blind zone). Serat optik trans-oseanik kesulitan mendukung aplikasi interaktif waktu nyata, serta pusat data di darat rentan terhadap bencana alam.
Menurut Yan, keunggulan daya komputasi berbasis ruang angkasa antara lain efisiensi pembangkit listrik tenaga surya berbasis ruang angkasa dapat ditingkatkan beberapa kali lipat dibandingkan dengan fotovoltaik berbasis darat. Penerapannya juga hampir tidak terpengaruh oleh siklus siang-malam dan cuaca.
Lingkungan ruang angkasa yang sangat dingin, mendekati nol mutlak, menurutnya, juga dapat secara signifikan mengurangi konsumsi energi pendinginan.
Tantangan Satelit AI di Ruang Angkasa
Di sisi lain, ia juga mengingatkan adanya tantangan berat bagi infrastruktur perangkat keras komputasi ruang angkasa. Contohnya, ruang angkasa merupakan lingkungan ekstrem berupa ruang hampa yang memiliki fluktuasi suhu drastis, mikrogravitasi, dan radiasi yang intens.
Akibatnya, peneliti harus memastikan pemilihan material perangkat keras dengan tepat, struktur mekanis, pembuangan panas chip, dan kinerja listriknya. Pemeliharaan satelit pascapeluncuran menurutnya juga sangat mahal atau sangat sulit diterapkan.
Dalam rangka Hari Antariksa China 2026, lembaga penelitian teknologi mutakhir Zhejiang Lab juga menjelaskan keterbatasan proyek infrastruktur AI di ruang angkasa jika menggunakan satelit tradisional.
Direktur Pusat Penelitian Sistem Komputasi Berbasis Ruang Angkasa di Zhejiang Lab, Li Chao, mengatakan bahwa satelit tradisional sangat kekurangan dalam pengiriman data. Saat ini, hingga 90 persen data yang dihasilkan di ruang angkasa hilang dan tidak pernah diproses secara efektif.
Proyek-proyek Komersial
Menanggapi kendala tersebut, Zhejiang Lab meluncurkan proyek Three-Body Computing Constellation yang mengirimkan AI ke ruang angkasa agar dapat melakukan pemrosesan data di orbit. Konstelasi ini ditargetkan mencapai skala 100 satelit pada tahun 2027. Saat ini, tim ini sudah menerapkan dan menguji 10 model AI di orbit bersama para mitra.
Kemudian, pada peluncuran terbaru di China, satelit yang diluncurkan merupakan hasil pengembangan perusahaan dirgantara komersial ADAspace.
"Di masa depan, daya komputasi berbasis ruang angkasa akan menjadi layanan publik universal, seperti halnya air dan listrik. Baik itu pengambilan keputusan secara real-time untuk kendaraan otonom, pengendalian terkoordinasi sekelompok drone, atau pengolahan data untuk peralatan eksplorasi laut dalam, semuanya dapat dicapai melalui daya komputasi berbasis ruang angkasa," kata Wakil Presiden Eksekutif ADAspace, Zhao Hongjie.
Proyek Miliaran Yuan
Wakil Direktur Departemen Ruang Angkasa Komersial Nasional China, Yu Guobin, mengatakan pemerintah China sudah meluncurkan studi kelayakan komprehensif dan penilaian pra-proyek untuk pembangunan konstelasi komputasi cerdas berbasis ruang angkasa.
Berdasarkan perkiraan awal Akademi Teknologi Informasi dan Komunikasi China (CAICT), yang memimpin pembentukan komite profesional daya komputasi ruang angkasa China, skala industri daya komputasi ruang angkasa di negerinya pada 2030 akan mencapai 250 miliar yuan atau sekitar Rp 660,73 triliun.
Komite tersebut akan berfokus pada bidang-bidang utama seperti chip AI berbasis ruang angkasa, komunikasi laser antarsatelit, pengendalian termal yang efisien, dan fotovoltaik ruang angkasa. Komite ini juga meneliti transformasi solusi teknologi yang layak secara teknis menjadi layak secara komersial.































































