Makanan yang terlihat segar dan memiliki rasa lezat belum tentu bebas dari bahaya. Jika terkontaminasi mikroorganisme atau zat kimia berbahaya, pangan bisa menjadi sumber penyakit yang mengganggu kesehatan.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar memperkirakan 29 juta orang mengalami keracunan pangan atau sakit akibat makanan setiap tahun. Angka tersebut disampaikan Taruna dalam Pertemuan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Sadar Pangan Aman (Germas SAPA) 2026 di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Taruna menyebut 1 dari 10 orang mengalami keracunan tiap tahun. Ini artinya, dialami kurang lebih 876 orang di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau 10 persen yang ada di Indonesia itu berarti sekitar 29 juta setiap tahun mengalami keracunan makanan atau sakit karena makanan," ujar Taruna saat memberikan keterangan kepada wartawan.
Taruna menilai angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan keamanan pangan yang perlu ditangani bersama. Menurutnya, pengawasan pangan menjadi salah satu tanggung jawab penting BPOM untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Cara Mengurangi Risiko Sakit Akibat Makanan
Keamanan pangan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan
Gunakan sabun dan air mengalir sebelum memasak, sebelum makan, serta setelah menangani bahan mentah atau menggunakan toilet.
2. Pisahkan bahan mentah dan makanan matang
Jangan menggunakan talenan atau peralatan yang sama untuk daging mentah dan makanan siap santap tanpa mencucinya terlebih dahulu. Langkah ini membantu mencegah kontaminasi silang.
3. Pastikan makanan dimasak dengan matang
Masak makanan hingga mencapai suhu yang aman. Warna permukaan makanan saja tidak selalu bisa memastikan bagian dalamnya telah matang.
4. Simpan makanan dengan benar
Makanan yang mudah rusak sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Simpan sesuai kebutuhan dan hindari mengonsumsi makanan yang penyimpanannya tidak aman.
5. Jangan mengandalkan tampilan saja
Makanan yang tampak normal belum tentu bebas dari mikroorganisme berbahaya. Karena itu, kebersihan, suhu memasak, dan cara penyimpanan tetap penting meskipun makanan tidak menunjukkan perubahan bau atau warna.
BPOM Perkuat Edukasi Keamanan Pangan
Taruna mengatakan BPOM menjalankan berbagai program edukasi dan pembinaan keamanan pangan di desa, pasar, dan sekolah.
Dalam keterangannya, ia menyebut program Desa Pangan Aman pada 2025 telah menjangkau 6.322 desa dan kelurahan dengan dukungan 31.541 kader keamanan pangan yang dilatih.
BPOM juga menjalankan program Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas di 527 pasar serta pembudayaan keamanan pangan di 19.603 sekolah.
Taruna menegaskan bahwa tugas BPOM bukan hanya melakukan penindakan terhadap pelanggaran, tetapi juga memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.
"Karena tupoksi kami bukan hanya penindakan, tupoksi kami dari hulu sampai hilir, premarket hingga postmarket, mulai dari edukasi, membimbing, asistensi, pendampingan, dan sebagainya," ujarnya.
Melalui program tersebut, BPOM berharap masyarakat semakin memahami pentingnya keamanan pangan, mulai dari pemilihan bahan hingga makanan siap dikonsumsi.
Keamanan pangan bukan hanya tanggung jawab pengawas atau produsen. Kebiasaan masyarakat dalam memilih, mengolah, dan menyimpan makanan juga berperan dalam mengurangi risiko penyakit bawaan pangan.


























































