Potensi gempa bumi di Jawa Timur menjadi perhatian, salah satunya karena keberadaan Sesar Waru yang melintasi Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Kepala Stasiun Geofisika Malang Ricko Kardoso menyampaikan kajian Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) 2024 memetakan potensi gempa dari sesar Waru hingga M 6,8.
Informasi ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Lantas, daerah mana saja yang dilintasi Sesar Waru dan bagaimana membedakan sesar aktif dengan sesar tidak aktif?
Sesar Waru di Sidoarjo Melintasi Mana Saja?
Sesar Waru merupakan bagian dari sistem patahan aktif yang menjadi kelanjutan sistem Sesar Kendeng. Jalur sesar ini melintasi sejumlah kawasan di sekitar perbatasan Surabaya dan Sidoarjo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di wilayah Sidoarjo, jalurnya mencakup Kecamatan Waru, termasuk kawasan sekitar Bundaran Waru. Patahan ini juga bersinggungan dengan kawasan industri di sekitar Rungkut, Surabaya, dan Berbek, Sidoarjo. Ke arah barat, jalurnya melewati kawasan Sepanjang di Kecamatan Taman hingga Krian.
Selain Sesar Waru di bagian utara, terdapat pula patahan lokal di Kecamatan Porong, Sidoarjo Selatan. Patahan ini memanjang dari timur laut ke barat daya, dan dikaitkan dengan struktur geologi bawah tanah di sekitar area semburan lumpur.
Apa Perbedaan Sesar Aktif dan Tidak Aktif?
Sesar aktif adalah patahan pada kerak bumi yang pernah bergerak dalam periode geologi relatif baru dan masih berpotensi bergerak kembali. Pergerakan ini dapat melepaskan energi yang memicu gempa bumi.
Dalam kajian kebencanaan, sesar yang terbukti mengalami pergerakan dalam sekitar 10.000 tahun terakhir, atau sejak kala Holosen, sering dikategorikan sebagai sesar aktif.
Sementara itu, sesar tidak aktif adalah patahan yang tidak menunjukkan bukti pergerakan dalam waktu geologi yang panjang. Potensi gempa dari sesar ini dinilai lebih rendah, tetapi bukan berarti sesar tersebut tidak mungkin bergerak kembali.
Status suatu sesar ditentukan melalui penelitian geologi dan seismologi. Penelitian ini mencakup pengamatan pergeseran lapisan batuan, penelusuran jejak gempa masa lalu, pemantauan aktivitas gempa kecil, serta pengukuran perubahan bentuk kerak bumi. Hasilnya digunakan untuk menilai potensi gempa dan menentukan langkah mitigasi bencana.
Apakah Sesar Aktif Selalu Menyebabkan Gempa?
Dilansir dari BPBD Banyumas, sesar aktif berpotensi memicu gempa bumi karena masih dapat mengalami pergerakan. Namun, keberadaan sesar aktif tidak berarti gempa akan terjadi setiap saat.
Gempa dapat terjadi ketika pergerakan sesar melepaskan energi yang merambat sebagai gelombang seismik. Besarnya guncangan bergantung pada sejumlah faktor, termasuk kekuatan gempa, kedalaman sumber, dan kondisi geologi setempat.
Pemetaan sesar aktif penting untuk mengenali wilayah yang berpotensi terdampak gempa bumi. Informasi ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan masyarakat untuk menyusun langkah mitigasi serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Cara Mengantisipasi Resiko Gempa Bumi
Risiko gempa bumi dapat dikurangi melalui persiapan dan langkah keselamatan yang tepat. Sebelum gempa terjadi, masyarakat dapat menyusun rencana evakuasi, mengenali jalur keluar yang aman, mempelajari cara melindungi diri, serta menyiapkan perlengkapan darurat dan obat-obatan.
Kondisi bangunan juga perlu diperhatikan, termasuk memastikan konstruksinya memenuhi standar tahan gempa. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan saat gempa terjadi.
- Jika gempa terjadi ketika sedang berada di dalam ruangan, maka lindungi kepala dan berlindung di bawah meja yang kokoh hingga guncangan berhenti. Setelah gempa berhenti, keluar dari bangunan dengan hati-hati jika kondisi memungkinkan.
- Jauhi kaca dan benda yang berpotensi jatuh.
- Jangan menggunakan lift.
- Jika berada di luar ruangan, jauhi bangunan, tiang, pohon, dan instalasi listrik yang berpotensi roboh.
Waspadai gempa susulan dan jangan memasuki kembali bangunan yang rusak sebelum dinyatakan aman. Masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, atau BPBD serta tidak mudah mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.























































