Jujur saja, kalau bicara soal liburan di Bali, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada deru ombak Canggu atau hiruk-pikuk kafe di Ubud.
Tapi kali ini, saya memilih 'melarikan diri' ke arah yang berbeda: Kintamani. Di antara kabut yang turun tipis dan udara dingin yang menusuk tulang, saya justru menemukan sebuah tempat yang membuat saya berhenti sejenak dari rutinitas. Namanya Nirata Treehouse.
Saat pertama kali sampai, hal pertama yang terlintas di kepala saya bukan "Wah, fotogenik banget,". Saya justru dibuat penasaran dengan materialnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya meraba dinding kayunya. Kasar, bertekstur, punya guratan-guratan yang jelas bukan hasil cetakan pabrik. Ternyata, sekitar 70 hingga 80 persen bangunan ini adalah kayu bekas yang diselamatkan. Bukan kayu baru yang ditebang, tapi kayu yang 'dihidupkan kembali'.
Lebih dari Sekadar Estetika
Berada di sini rasanya seperti diingatkan tentang sesuatu yang sudah lama kita lupakan sebagai warga urban: bahwa membangun itu tidak harus selalu identik dengan membongkar tanah atau mengecor lantai dengan beton tebal.
Saya sempat membaca di sebuah media terkait salah satu orang di baliknya, I Nyoman Jatiguna. Dia bilang, banjir yang sempat melanda Bali jadi pengingat keras kalau cara kita membangun harus berubah.
Nirata ini bukan cuma soal gaya-gayaan arsitektur, tapi semacam 'protes halus' terhadap pola pembangunan yang makin serakah. Menginap di sini seperti mendukung sebuah gerakan kecil untuk Bali yang lebih lestari.
Tanah di sini tetap dibiarkan jadi area resapan, sehingga saya merasa sedang berada di dalam rumah yang memang 'mengerti' cara hidup berdampingan dengan alam.
Kopi, Kabut, dan Ketenangan
Salah satu momen favorit saya? Tentu saja pagi hari. Bangun tidur, buka pintu balkon, dan langsung disapa pemandangan Gunung Batur yang megah.
Dinginnya udara Kintamani terasa masuk lewat celah-celah kayu. Sambil menyesap kopi, pikiran yang tadinya penuh dengan to-do list pekerjaan, perlahan-lahan mencair.
Sebagai seseorang yang terbiasa mengelola operasional properti, saya sangat mengapresiasi bagaimana ritme layanan di sini. Mereka tahu persis kapan saya butuh privasi total dan kapan saya membutuhkan secangkir kopi hangat saat kabut turun-sebuah harmoni antara profesionalisme operasional dan kehangatan personal.
Ada kolam renang outdoor juga, meskipun jujur saja, airnya dingin sekali! Tapi berenang di tengah udara pegunungan sambil menatap perbukitan itu rasanya... priceless.
Kalau Anda bosan dengan gaya liburan yang itu-itu saja, mungkin perlu sesekali mencoba 'bertapa' di rumah pohon seperti ini.
Bukan cuma untuk stok foto Instagram, tapi juga untuk merasakan bagaimana rasanya tidur di dalam kayu-kayu tua yang punya cerita, dan sadar bahwa kita manusia, sebenarnya cuma tamu di tanah ini.
Siapkan jaket tebal, karena Kintamani di malam hari tidak main-main dinginnya. Menepi sejenak ke sini, bagi saya, adalah cara terbaik untuk kembali mengenal diri sendiri.





























































Komentar Terbanyak
Die Norwegische Bliv Robots Find Your Verhindern параметров Via
Eu Ets Log Ets Jupiter Hfs Has Aristocrat Das 2010
Kitchen Bathroom 26104 Updated Hfs Has One Old Sehenswürdigkeiten