Liputan6.com, Jakarta -Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengeluarkan seluruh saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Lalu bagaimana dampak saham HSC dikeluarkan dari perhitungan indeks ke IHSG?
Dalam riset Samuel Sekuritas Indonesia menyebutkan, IHSG berpotensi naik 18,6% ke 5.925 dari 4.997 dengan catatan tanpa saham HSC. Namun, itu baru riset sementara. "Saham HSC drop paling banyak, jadi kalau dikeluarkan indeks kita naik. Saham HSC paling besar menurunkan indeks," ujar Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su saat dihubungi Liputan6.com.
Sementara itu, Pengamat pasar modal Hendra Wardana menuturkan, keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan seluruh saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan IHSG adalah langkah yang tepat arah, tetapi belum tentu cukup.
Advertisement
Kebijakan ini diumumkan Senin, 19 Oktober 2026 setelah pertemuan daring dengan MSCI, dan saham HSC tetap bisa diperdagangkan karena ini bukan delisting.
"Dalam bahasa sederhana, saham-saham itu tidak dicoret dari bursa. Mereka hanya tidak lagi "ikut menyetir" IHSG. Logikanya masuk akal,” ujar Hendra, dalam keterangan kepada Liputan6.com, Selasa, (20/10/2026).
Ia menuturkan, saham HSC dimiliki segelintir pihak dan hanya sedikit sahamnya yang benar-benar beredar di publik, sehingga harganya relatif mudah digerakkan.
Hendra mengatakan, saham seperti ini punya bobot besar di indeks, IHSG bisa naik atau turun bukan karena kondisi ekonomi, melainkan karena permainan harga di segelintir saham. BEI menyebut bobot saham HSC sekitar 18% dari IHSG. Dengan mengeluarkannya, Hendra berharap IHSG menjadi cermin pasar yang lebih jujur, seperti sebelumnya ketika BEI sudah menyingkirkan saham HSC dari IDX30, LQ45, dan IDX80.
“Apakah harga akan menjadi lebih wajar? Untuk indeksnya, kemungkinan besar ya. IHSG akan lebih mewakili saham yang benar-benar likuid dan tersebar luas kepemilikannya, sehingga lebih sulit "dipoles",” ujar dia.
Membenahi Pasar Modal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375354/original/010762400_1792140974-WhatsApp_Image_2026-10-16_at_15.50.56.jpeg)
Namun, ia mengingatkan penting dibedakan antara indeks yang lebih wajar dan harga saham yang lebih wajar. Saham HSC tetap diperdagangkan, jadi potensi harga yang digerakkan secara terkoordinasi di saham-saham itu tidak hilang.
“Perubahan ini hanya memutus penularannya ke papan skor IHSG. Penyakitnya sendiri, yakni kepemilikan yang terkonsentrasi dan dugaan perdagangan terkoordinasi, baru terobati bila ditopang penegakan hukum yang tegas dan aturan free float yang lebih ketat,” ujar dia.
Hendra menuturkan, satu catatan angka juga perlu dicermati. Infografis yang beredar menyebut 80 saham HSC mencakup sekitar 28,78% dari total kapitalisasi pasar per 16 Oktober 2026, sedangkan BEI menyebut bobot 18%. Selisih ini kemungkinan karena basis hitungnya berbeda (kapitalisasi total dibandingkan bobot setelah penyesuaian saham beredar).
“Itu dugaan saya, bukan penjelasan resmi, sehingga publik berhak meminta BEI memerinci metodologinya,” ujar dia.
Di sisi lain, ada beberapa risiko saham HSC dikeluarkan dari perhitungan IHSG. Pertama, ia menuturkan,IHSG berpotensi bergerak lebih liar dalam jangka pendek karena basisnya menyempit, dan saat penyesuaian berlaku akan ada gejolak teknis karena dana yang melacak indeks harus menata ulang portofolio. Kedua, Hendra menilai, saham HSC bisa menjadi "terasing". Investor yang tidak nyaman dengan saham tak terindeks dapat menjauh, likuiditas menipis, dan emitennya sulit menggalang dana. Ketiga, ia menuturkan,ada risiko ketidakadilan bagi emiten yang sebenarnya sehat.
“Untungnya, saham yang nantinya keluar dari daftar HSC akan kembali diperhitungkan dalam IHSG, sehingga ada insentif bagi pemilik untuk membuka porsi publik,” kata dia.
Keempat, menurut Hendra, paling berbahaya, ada risiko menciptakan ilusi perbaikan. “Jika IHSG tampak lebih rapi tetapi praktik di balik layar tidak berubah, investor global tidak akan terkecoh,” kata dia.
Advertisement
Pertaruhan yang Besar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1816138/original/069258400_1514544766-20171229-ISHG-AY1.jpg)
Soal MSCI, ia menilai, pertaruhannya sangat besar. MSCI menilai status pasar berkembang bagi Indonesia sudah tidak layak dan mengusulkan penurunan ke Standalone Market, yang bisa memaksa dana pelacak indeks menjual saham-saham Indonesia.
IHSG anjlok 11%pada Jumat lalu, dipicu usulan itu. Otoritas Indonesia disebut punya waktu untuk memperbaiki keadaan hingga April 2027. Namun, MSCI menyatakan akan melanjutkan reklasifikasi kecuali konsultasi menemukan bukti nyata perbaikan tata kelola pasar.
“Di sini kebijakan BEI perlu dibaca dengan jernih. Langkah ini perlu, tetapi hampir pasti tidak cukup untuk meyakinkan MSCI. MSCI sendiri sudah menghapus saham yang ditetapkan otoritas sebagai HSC dari indeksnya. Artinya, mengeluarkan HSC dari IHSG lebih banyak menyelaraskan indeks domestik dengan perlakuan MSCI,”kata dia.
Hendra menegaskan, keberatan utama MSCI menyangkut struktur kepemilikan yang buram, data yang mengaburkan saham yang benar-benar beredar, serta perdagangan terkoordinasi, ditambah penegakan hukum yang masih lemah.
“Karena itu, peluang Indonesia bertahan di kelompok pasar berkembang bergantung pada hal yang lebih berat: sanksi nyata terhadap manipulasi harga, data kepemilikan yang konsisten, dan kenaikan free float yang benar-benar terlaksana. Kebijakan HSC adalah sinyal itikad baik, bukan tiket aman. Tidak ada jaminan MSCI mengubah sikapnya, dan keputusan akhir belum ditetapkan,” ujar Hendra.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4751478/original/019919400_1708694702-Gus_Iqdammmm.ok.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378214/original/055597900_1792492609-Screenshot_2026-10-20_171752.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344440/original/084293900_1788945337-cek_fakta_PGI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378118/original/094705800_1792490144-gus_iqdam_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5487881/original/098610500_1769682055-4.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5182873/original/071417500_1744109076-20250408-Penutupan_IHSG-HER_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5755718/original/069568600_1778657615-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1040537/original/091207600_1446442504-20151102-IHSG-Masih-Berkutat-di-Zona-Merah-Jakarta4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)