Taman Nasional Tanjung Puting di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah merupakan salah satu kawasan penting untuk konservasi orang utan di Indonesia. Kawasan itu kini merana karena kebakaran hutan.
Selain menjadi habitat berbagai satwa liar, kawasan tersebut juga menjadi tujuan wisata alam yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, sayangnya saat ini area tersebut sedang dilanda karhutla yang mengancam ekosistem di sana.
TN Tanjung Puting memiliki daya tarik wisata yang menakjubkan dan memberikan pengalaman yang berharga untuk wisatawan yang ingin mencoba berinteraksi langsung dengan satwa liar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari berbagai sumber yang dihimpun detikTravel, berikut lima fakta menarik tentang Taman Nasional Tanjung Puting:
1. Habitat penting orang utan kalimantan
Taman Nasional Tanjung Puting merupakan salah satu rumah alami dengan populasi terbesar orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Dengan luas sekitar 415.040 hektare, kawasan tersebut memiliki beragam ekosistem, mulai dari hutan tropis hingga rawa gambut.
Bahkan primatolog, Birute Mary Galdikas, menjuluki TN Tanjung Pitung ini sebagai 'Ibu kota orang utan dunia', seperti ditulis dalam laman Visit Kotawaringin Barat.
Selain orang utan, TN Tanjung Pitung juga menjadi habitat berbagai satwa khas Kalimantan, mulai dari bekantan, beruang madu hingga buaya muara. Keanekaragaman hayatinya membuat Tanjung Puting penting untuk menjaga kelestarian satwa liar dan lingkungan alaminya.
2. Dikunjungi hampir 80 ribu wisatawan pada 2025
Tanjung Puting juga menjadi tujuan wisata bagi wisatawan dari berbagai negara. Data Balai Taman Nasional Tanjung Puting yang diberitakan Antara, mencatat sebanyak 79.920 kunjungan wisatawan sepanjang 2025.
Wisatawan bersama orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting. (Gusti/d'Traveler) |
Dari jumlah tersebut, sekitar 78% merupakan wisatawan mancanegara dan 22% wisatawan domestik. Untuk originasi wisatawan mancanegara ke Taman Nasional Tanjung Puting ini peringkat pertamanya adalah wisatawan asal Spanyol dengan 24.037 orang, kemudian dari Jerman sebanyak 6.361 orang.
Dan di posisi ketiga adalah wisatawan Amerika Serikat dengan 6.106 orang. Data itu memperlihatkan besarnya minat wisatawan mancanegara terhadap wisata alam dan konservasi orang utan di Kalimantan Tengah.
3. Menjelajahi kawasan dengan perahu klotok
Salah satu cara untuk menikmati Tanjung Puting adalah menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan klotok, perahu kayu tradisional yang biasa digunakan untuk membawa wisatawan. Selama perjalanan, wisatawan bisa menikmati pemandangan hutan di sepanjang sungai.
Jalur tersebut juga menjadi akses menuju sejumlah lokasi konservasi orang utan. Perjalanan dengan klotok pun menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan di Taman Nasional Tanjung Puting.
4. Camp Leakey, pusat penelitian orang utan
Taman Nasional Tanjung Puting juga memiliki Camp Leakey, yang merupakan pusat penelitian orang utan yang didirikan pada 1971. Lokasi ini dikenal karena perannya dalam penelitian perilaku orang utan dan upaya konservasi satwa tersebut.
Orang utan di kawasan Camp Leakey, Taman Nasional Tanjung Puting. (Ida Setianingsih) |
Selain Camp Leakey, terdapat Tanjung Harapan dan Pondok Tanggui yang juga berkaitan dengan kegiatan konservasi dan pengelolaan orang utan. Meski menjadi daya tarik wisata, pengunjung tidak selalu bisa melihat orang utan secara langsung karena satwa tersebut hidup di alam liar.
5. Wisata alam sekaligus edukasi konservasi
Selain melihat keanekaragaman hayati, wisatawan dapat menikmati perjalanan menyusuri sungai dan mengenal upaya perlindungan orang utan. Pengalaman tersebut menjadikan Taman Nasional Tanjung Puting sebagai salah satu tujuan ekowisata di Kalimantan.
Dan hal menarik lainnya adalah wisatawan yang bisa bertemu atau berinteraksi langsung dengan orang utan saat jam makan yang telah dijadwalkan (tentunya dalam pengawasan petugas). Tapi dengan catatan, aktivitas ini bukan sesuatu yang pasti terjadi dan wisatawan tidak diperkenankan untuk memberi makan secara pribadi.
Saat ini, kondisi TN Tanjung Puting kian mengkhawatirkan. Kebakaran mengancam kawasan hutan dan habitat orang utan, sementara tim gabungan relawan dari YOHK dan HPI Kobar memilih menarik diri sementara setelah upaya pemadaman di lapangan dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan.
Dengan kemampuan pemadaman yang sudah mencapai batas, mereka mendesak pemerintah segera mengerahkan water bombing untuk menjangkau titik api di zona inti yang sulit ditangani dari darat. Luas kawasan terdampak diperkirakan sekitar 54 ribu hektare, meski angka tersebut masih berupa perkiraan dan belum dapat dipastikan sebagai luas lahan yang terbakar.
Situasi ini juga menjadi beban bagi pekerja wisata dan relawan yang selama ini berada di garis depan. Aktivitas wisata di kawasan yang bergantung pada alam dan keberadaan orangutan ikut terancam, sementara relawan harus menghadapi kebakaran dengan kemampuan dan dukungan yang terbatas.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin sampai di batas kemampuan kami," kata Moncos, yang kemudian meminta pemerintah mengambil langkah lebih besar melalui pengerahan water bombing.



























































