Industri perhotelan mulai bersiap menghadapi momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027. Artotel Group melihat periode tersebut sebagai peluang untuk mendongkrak bisnis hotel, terutama untuk mengimbangi kinerja segmen pasar lain yang belum optimal sepanjang tahun ini.
Eduard Rudolf Pangkerego, COO Artotel Group mengatakan, periode Nataru menjadi salah satu momentum penting bagi pelaku industri perhotelan untuk memaksimalkan tingkat hunian kamar atau okupansi. Artotel Group pun mulai menyusun strategi untuk menangkap peluang dari meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akomodasi selama liburan akhir tahun.
"Kalau kita bilang bisnis, Nataru itu momen kita buat menyedot sebanyak-banyaknya atau sebesar-besarnya untuk mengembalikan atau menyeimbangkan apa yang kita kalah di segmen lain di tahun ini," ujar Eduard saat ditemui di Sleman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Hotel Kelolaan Artotel Merambah ke Sleman |
Menurutnya, pelaku industri perhotelan perlu tetap optimistis dalam menghadapi berbagai kondisi pasar. Hotel memiliki karakteristik tersendiri karena dapat menjadi pilihan masyarakat untuk beristirahat, melepas penat, hingga menikmati waktu bersama keluarga.
Artotel berharap momentum libur akhir tahun kali ini dapat mendorong peningkatan permintaan kamar. Kebijakan cuti bersama dan kemungkinan pengaturan kerja fleksibel, termasuk work from home (WFH), juga diharapkan dapat memperpanjang waktu liburan masyarakat.
"Kita harap orang lagi stres juga liburan, orang lagi happy juga liburan. Kalau hotel itu, ya sudah, kita ambil sisi positifnya. Mudah-mudahan dengan cuti bersama dan tambahan WFH, semuanya bisa menjadi puncak bisnis hotel," katanya.
Tarif kamar Nataru naik 5-7%
Meski optimistis terhadap prospek Nataru, Eduard mengakui bahwa gambaran tingkat okupansi pada periode tersebut belum terlihat secara pasti. Menurutnya, karakteristik pemesanan kamar menjelang libur akhir tahun cenderung didominasi oleh transaksi pada menit-menit terakhir atau last minute booking.
Karena itu, perusahaan masih perlu mencermati perkembangan permintaan sebelum dapat memperkirakan tingkat hunian secara lebih akurat.
Dari sisi tarif kamar, Artotel Group berencana menaikkan average room rate (ARR) atau rata-rata tarif kamar sekitar 5-7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Kita naikkan sekitar 5-7% dari tahun lalu. Kita tidak berani sampai 10%," ujar Eduard.
Kenaikan tersebut mencerminkan pendekatan yang relatif terukur dalam menghadapi momentum liburan akhir tahun. Artotel berupaya memanfaatkan peluang peningkatan permintaan tanpa menaikkan tarif secara berlebihan.
Konser dan acara besar ikut menggerakkan bisnis hotel
Selain libur akhir tahun, penyelenggaraan konser dan acara berskala besar juga menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung bisnis perhotelan, terutama bagi hotel yang berada di sekitar lokasi acara.
Eduard menjelaskan, dampak sebuah konser terhadap okupansi hotel tidak hanya berlangsung pada hari penyelenggaraan. Kehadiran kru produksi, tim logistik, penyelenggara, serta pihak-pihak yang melakukan persiapan sebelum acara turut menciptakan kebutuhan akomodasi.
Menurutnya, efek tersebut dapat terasa hingga sekitar tujuh hari sebelum atau sesudah penyelenggaraan acara, meski durasinya bergantung pada skala dan kebutuhan masing-masing kegiatan.
"Sebetulnya dampaknya bukan cuma satu hari. Mereka punya tim yang datang lebih dulu untuk mengecek lokasi, menyiapkan logistik, mengurus perizinan, dan sebagainya. Plus-minus tujuh hari," jelasnya.
Ia memperkirakan, acara besar berpotensi memberikan tambahan dampak sekitar 10% terhadap bisnis hotel, meskipun angka tersebut bergantung pada karakteristik acara dan kondisi pasar.
Hotel yang berada di sekitar stadion atau lokasi konser, misalnya, dapat memperoleh keuntungan dari tingginya kebutuhan kamar oleh penonton maupun pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara.
Eduard mencontohkan, hotel-hotel di sekitar kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, dapat merasakan tingginya permintaan ketika konser besar digelar. Sejumlah tamu bahkan memesan kamar jauh-jauh hari karena ingin memastikan mendapatkan akomodasi di sekitar lokasi pertunjukan.
Boyband Korea Selatan BTS misalnya akan menggelar konser 'ARIRANG' di Jakarta pada 26-27 Desember 2026. Konser tersebut membuat ketersediaan kamar di hotel sekitar lokasi acara dapat menipis sebelum hari penyelenggaraan. "Hotel kita (Artotel GBK) sudah penuh tuh, kamarnya sudah penuh," ujarnya
Meski demikian, Eduard menegaskan bahwa Artotel tetap menerapkan strategi penetapan harga yang mempertimbangkan permintaan dan ketersediaan kamar. Ketika permintaan meningkat, tarif dapat disesuaikan melalui mekanisme dynamic pricing, tetapi perusahaan tidak ingin menaikkan harga secara berlebihan hanya karena kamar hampir habis.
"Kita sudah menerapkan dynamic rate. Saat kamar hampir penuh, kita menggunakan tarif yang sesuai. Tapi kita tidak mau memanfaatkan situasi dengan tiba-tiba menjual kamar Rp 8 juta atau Rp 10 juta," ujarnya.
Ia menambahkan, tingginya permintaan di sekitar lokasi acara juga dapat memunculkan transaksi penjualan kembali kamar atau voucher oleh pihak lain. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi industri perhotelan ketika kamar telah dipesan jauh sebelum acara berlangsung.


























































