Liputan6.com, Jakarta Ciri orang yang rajin membaca komposisi skincare sebelum membeli terlihat dari kebiasaannya memeriksa label kemasan sebelum tertarik pada klaim produk. Alih-alih langsung percaya pada iklan, mereka memilih memahami bahan-bahan yang terkandung di dalamnya untuk memastikan produk sesuai dengan kebutuhan kulit.
Mereka biasanya memperhatikan urutan bahan, mengenali kandungan aktif yang dibutuhkan, dan menghindari produk dengan informasi komposisi yang tidak jelas. Kebiasaan ini membantu mereka membuat keputusan yang lebih cermat saat memilih skincare, bukan sekadar mengikuti tren atau tergiur janji hasil instan.
Pentingnya membaca label juga berkaitan dengan keamanan penggunaan produk. Menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA), keberadaan istilah seperti "mercurous chloride", "calomel", "mercuric", "mercurio", atau "mercury" pada label menandakan bahwa produk mengandung merkuri. Jika menemukan kandungan tersebut, penggunaan produk harus segera dihentikan. Berikut ulasan mengenai ciri orang yang rajin membaca komposisi skincare sebelum membeli, berikut ulasan Liputan6.com.
Advertisement
Pengertian Kebiasaan Membaca Komposisi Skincare
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352593/original/024658400_1789809903-pexels-miriam-alonso-7622570.jpg)
Komposisi skincare adalah daftar bahan yang digunakan untuk membuat produk perawatan kulit. Informasi ini biasanya tercantum di bagian belakang atau sisi kemasan dengan judul ingredients atau komposisi. Membaca komposisi berarti memeriksa bahan-bahan tersebut sebelum membeli, bukan hanya mempertimbangkan merek, harga, atau klaim yang tertera di bagian depan kemasan.
Daftar komposisi umumnya menggunakan standar penamaan internasional yang disebut INCI (International Nomenclature of Cosmetic Ingredients). Menurut Honeybiotics, sejumlah bahan memiliki nama yang mungkin terdengar asing, padahal cukup umum digunakan dalam produk perawatan kulit. Misalnya, Butyrospermum Parkii merupakan nama INCI untuk shea butter, Simmondsia Chinensis Seed Oil adalah minyak jojoba, sedangkan Tocopherol dikenal sebagai vitamin E. Karena itu, nama bahan yang panjang atau terdengar ilmiah tidak serta-merta menunjukkan bahwa bahan tersebut berbahaya.
Dalam praktiknya, membaca komposisi skincare membantu konsumen menilai kesesuaian produk dengan kebutuhan kulit, mengenali bahan aktif yang terkandung di dalamnya, serta mengidentifikasi bahan yang berpotensi memicu iritasi atau reaksi alergi. Kebiasaan ini juga membuat seseorang lebih kritis terhadap klaim pemasaran. Untuk memahami cara memeriksanya, kamu bisa membaca panduan membaca daftar bahan skincare yang membahas hal-hal penting saat menilai komposisi produk.
Ciri Orang yang Rajin Membaca Komposisi Skincare Sebelum Membeli
Orang yang terbiasa memeriksa komposisi skincare cenderung lebih cermat dalam memilih produk. Mereka tidak langsung percaya pada klaim di kemasan atau mengikuti tren begitu saja, tetapi berusaha memahami kandungan yang akan digunakan pada kulit. Kebiasaan ini terlihat dari beberapa hal berikut.
- Selalu memeriksa bagian belakang kemasan.
Sebelum membeli, mereka biasanya membalik kemasan untuk membaca daftar bahan. Mereka memahami bahwa bagian depan produk lebih banyak menonjolkan klaim pemasaran, sedangkan daftar komposisi memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai kandungannya. Istilah seperti "clean", "natural", atau "dermatologist-tested" juga tidak otomatis menjamin keamanan maupun efektivitas produk. Karena itu, mereka tidak menjadikan klaim tersebut sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan pilihan.
- Memahami urutan bahan dalam daftar komposisi.
Mereka mengetahui bahwa urutan bahan dapat memberikan gambaran mengenai komposisi produk. Secara umum, bahan kosmetik dicantumkan berdasarkan konsentrasi dari yang tertinggi ke terendah, meskipun terdapat pengecualian untuk bahan dengan konsentrasi rendah dan bahan pewarna tertentu. Oleh sebab itu, beberapa bahan pertama biasanya menjadi petunjuk penting untuk memahami dasar formulasi skincare. Namun, posisi bahan saja tidak cukup untuk memastikan efektivitas produk karena konsentrasi yang dibutuhkan setiap bahan berbeda-beda.
- Tidak mudah tergiur bahan yang sedang viral.
Bahan aktif yang ramai dibicarakan di media sosial belum tentu sesuai dengan kebutuhan setiap orang. Mereka akan memeriksa daftar komposisi dan mempertimbangkan formulasi produk secara keseluruhan sebelum membeli. Jika bahan yang diunggulkan dalam promosi tercantum di bagian akhir daftar, mereka tidak langsung menyimpulkan bahwa produk tersebut tidak efektif. Sebaliknya, mereka memahami bahwa urutan bahan saja tidak dapat memastikan konsentrasi maupun manfaatnya.
- Mengetahui bahan aktif yang dibutuhkan kulit.
Alih-alih mengoleksi produk yang sedang populer, mereka memilih kandungan berdasarkan kebutuhan kulit. Niacinamide, misalnya, kerap digunakan untuk membantu menjaga fungsi pelindung kulit dan merawat tampilan warna kulit. Asam hialuronat dikenal membantu mempertahankan kelembapan, sedangkan ceramide berperan mendukung lapisan pelindung kulit. Sementara itu, salicylic acid sering ditemukan dalam produk untuk membantu mengatasi pori-pori tersumbat. Pemilihan bahan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kulit dan formulasi produk.
- Lebih peka terhadap bahan yang berpotensi memicu iritasi.
Mereka cenderung lebih teliti ketika menemukan bahan yang sebelumnya pernah menimbulkan reaksi pada kulit. Pemilik kulit sensitif, misalnya, mungkin memeriksa keberadaan pewangi seperti fragrance atau parfum, serta bahan lain yang tidak cocok bagi mereka. Namun, keberadaan pewangi atau alkohol denat tidak selalu berarti produk berbahaya bagi semua orang. Hal terpenting adalah mengenali respons kulit sendiri dan memilih produk yang sesuai.
- Menghindari produk dengan informasi yang tidak jelas.
Kejelasan label menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum membeli skincare. Mereka cenderung menghindari produk yang tidak mencantumkan komposisi secara memadai atau memiliki informasi produsen yang meragukan. Untuk produk yang dipasarkan di Indonesia, mereka juga memeriksa status notifikasi BPOM melalui kanal resmi. Langkah ini membantu memastikan bahwa produk memiliki informasi yang dapat ditelusuri, meskipun pemeriksaan status notifikasi tetap perlu dilakukan secara terpisah dari pembacaan komposisi.
- Memeriksa tanggal kedaluwarsa dan simbol PAO.
Selain daftar bahan, mereka memperhatikan masa penggunaan produk. Tanggal kedaluwarsa menunjukkan batas waktu yang ditetapkan untuk produk dalam kondisi penyimpanan yang sesuai. Sementara itu, PAO (Period After Opening) ditandai dengan gambar wadah terbuka dan angka seperti 12M, yang menunjukkan periode penggunaan setelah kemasan dibuka, yaitu 12 bulan. Memperhatikan informasi ini membantu mereka menghindari penggunaan produk yang sudah melewati masa pakainya.
- Tetap melakukan patch test sebelum pemakaian rutin.
Membaca komposisi bukan berarti seseorang dapat memastikan bahwa produk tidak akan menimbulkan reaksi pada kulit. Karena itu, mereka tetap berhati-hati saat mencoba skincare baru. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah patch test sesuai petunjuk penggunaan produk, dengan mengaplikasikannya pada area kulit kecil terlebih dahulu dan mengamati reaksinya. Meski tidak menjamin produk bebas risiko, langkah ini dapat membantu mengenali kemungkinan reaksi sebelum produk digunakan secara lebih luas.
Advertisement
Manfaat Rajin Membaca Komposisi Skincare
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4264387/original/083109600_1671293182-enecta-cannabis-extracts-80wCkpt-IKE-unsplash.jpg)
Rajin membaca komposisi skincare membantu kamu memilih produk berdasarkan kebutuhan kulit, bukan sekadar mengikuti tren atau tergiur iklan. Dengan memahami kandungannya, kamu bisa mempertimbangkan apakah suatu produk memang sesuai untuk digunakan. Kebiasaan ini juga membuat pengeluaran lebih terarah karena kamu dapat menghindari pembelian produk yang tidak dibutuhkan.
- Menghindari bahan berbahaya.
Memeriksa komposisi membantu kamu mengenali bahan yang perlu diwaspadai, terutama pada produk dengan klaim memutihkan kulit secara instan. Merkuri, misalnya, merupakan bahan berbahaya yang dilarang dalam kosmetik, sedangkan hidrokinon memiliki pembatasan penggunaan dalam produk kosmetik sesuai ketentuan yang berlaku. Menurut informasi edukasi dari U.S. Food and Drug Administration (FDA), paparan merkuri melalui produk yang dioleskan ke kulit dapat menimbulkan dampak kesehatan, terutama jika digunakan berulang kali. Karena itu, penting untuk memeriksa komposisi dan memastikan produk memiliki izin edar yang sesuai.
- Lebih kritis terhadap klaim pada label.
Label seperti hypoallergenic dan fragrance-free sering menjadi pertimbangan saat memilih skincare, khususnya bagi pemilik kulit sensitif. Namun, istilah tersebut tidak selalu menjamin bahwa produk bebas dari seluruh bahan yang berpotensi memicu reaksi. Dalam laporan NPR mengenai sebuah studi terhadap 100 pelembap terlaris, ditemukan bahwa 45 persen produk berlabel fragrance-free ternyata mengandung pewangi, sedangkan 83 persen produk berlabel hypoallergenic mengandung bahan yang berpotensi memicu alergi. Temuan ini menunjukkan pentingnya memeriksa daftar bahan, bukan hanya mengandalkan klaim pada kemasan.
- Memilih produk sesuai kebutuhan kulit.
Setiap jenis kulit memiliki kebutuhan yang berbeda. Kulit kering, misalnya, dapat terbantu oleh produk dengan kandungan pelembap seperti gliserin atau asam hialuronat. Sementara itu, pemilik kulit berminyak mungkin mempertimbangkan produk dengan tekstur ringan dan bahan aktif yang sesuai dengan masalah kulitnya. Bagi kulit sensitif, memilih formula sederhana dan memperhatikan bahan yang pernah memicu reaksi dapat menjadi langkah yang lebih bijak. Dengan membaca komposisi, kamu memiliki dasar yang lebih baik untuk membandingkan produk sebelum membeli.
- Menghemat pengeluaran.
Harga mahal tidak selalu menjamin bahwa suatu produk paling sesuai untuk kulitmu. Produk dengan kemasan mewah atau merek populer belum tentu memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan produk lain dengan formulasi yang tepat. Membaca komposisi membantu kamu membandingkan kandungan, fungsi, dan kesesuaian produk dengan kebutuhan kulit. Dengan begitu, kamu bisa mengalokasikan anggaran untuk skincare yang benar-benar diperlukan tanpa harus membeli banyak produk hanya karena sedang populer.
- Mencegah penggunaan bahan aktif secara berlebihan.
Menggunakan beberapa produk sekaligus tanpa memeriksa kandungannya dapat membuat kulit terpapar bahan aktif yang serupa atau kombinasi yang kurang sesuai. Contohnya, penggunaan beberapa produk eksfoliasi secara bersamaan berpotensi menyebabkan kulit kering, kemerahan, atau iritasi. Dengan membaca komposisi setiap produk, kamu bisa mengetahui bahan aktif yang digunakan dan menyusun rutinitas perawatan kulit secara lebih terukur. Langkah ini juga membantu menghindari penggunaan produk berlebihan yang justru dapat mengganggu lapisan pelindung kulit.
Pentingnya memahami komposisi juga berlaku ketika memilih produk dengan bahan aktif populer, seperti vitamin C. Dokter kulit Jennifer Engelman, dikutip dari TODAY, menjelaskan:
"Vitamin C murni adalah antioksidan kuat dengan kemampuan anti-penuaan dan mencerahkan kulit, tetapi banyak pilihan produk yang bisa mengiritasi, jadi kamu perlu mencari konsentrasi yang tepat serta bahan yang menutrisi kulit untuk meminimalkan iritasi dan memaksimalkan manfaat."
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa memilih skincare tidak cukup hanya dengan mencari bahan aktif yang terkenal. Konsentrasi, formulasi, dan kesesuaian dengan kondisi kulit juga perlu dipertimbangkan. Dengan membiasakan diri membaca komposisi sebelum membeli, kamu dapat mengambil keputusan yang lebih cermat sekaligus membangun rutinitas perawatan kulit yang sesuai kebutuhan.
Cara Membaca Komposisi Skincare Langkah demi Langkah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5269268/original/001246000_1751344569-young-beautiful-blonde-girl-cares-face-skin-with-moisturizer-front-mirror.jpg)
Membaca komposisi skincare tidak harus membuatmu pusing meskipun daftar bahannya terlihat panjang dan dipenuhi istilah asing. Cara paling mudah untuk memahaminya adalah dengan mengenali fungsi bahan dan memperhatikan urutannya. Ibarat membaca resep masakan, daftar komposisi memberikan gambaran tentang bahan yang digunakan untuk membentuk formula suatu produk.
- Kenali jenis dan masalah kulitmu.
Sebelum memeriksa kandungan produk, pahami terlebih dahulu kebutuhan kulitmu. Kulit kering umumnya membutuhkan kelembapan ekstra, sedangkan kulit berminyak mungkin lebih cocok dengan formula bertekstur ringan. Pemilik kulit sensitif juga perlu memperhatikan bahan yang pernah memicu iritasi. Dengan mengetahui kebutuhan kulit, kamu bisa lebih mudah menentukan kandungan yang perlu dicari dan produk yang sebaiknya dihindari.
- Perhatikan bahan-bahan di urutan awal.
Daftar komposisi kosmetik umumnya disusun berdasarkan konsentrasi bahan dari yang tertinggi ke terendah, dengan sejumlah pengecualian. Karena itu, lima bahan pertama dapat memberikan gambaran awal tentang dasar formulasi produk. Air yang ditulis sebagai aqua, misalnya, sering menjadi bahan utama dalam pelembap atau serum berbasis air. Hal tersebut wajar dan tidak menunjukkan bahwa produk memiliki kualitas rendah.
- Temukan bahan aktif yang menjadi andalan produk.
Jika suatu skincare mengunggulkan niacinamide, vitamin C, atau asam hialuronat, periksa apakah bahan tersebut tercantum dalam daftar komposisi. Namun, jangan langsung menganggap produk tidak efektif hanya karena bahan aktifnya berada di bagian akhir. Menurut Paula's Choice, kebutuhan konsentrasi setiap bahan berbeda-beda. Beberapa bahan, seperti peptida dan asam hialuronat, dapat memberikan manfaat pada konsentrasi relatif rendah, bergantung pada jenis bahan dan formulasi produknya.
- Pahami aturan bahan dengan konsentrasi di bawah 1 persen.
Dalam pelabelan kosmetik, bahan dengan konsentrasi 1 persen atau kurang umumnya boleh dicantumkan dalam urutan apa pun setelah bahan yang konsentrasinya lebih dari 1 persen. Ketentuan ini membuat posisi bahan di bagian akhir daftar tidak selalu bisa digunakan untuk memperkirakan jumlah pastinya. Dengan memahami aturan tersebut, kamu tidak terburu-buru menilai kualitas produk hanya berdasarkan urutan bahan.
- Periksa bahan yang berpotensi memicu iritasi.
Perhatikan keberadaan pewangi, alkohol denat, atau bahan lain yang sebelumnya pernah menimbulkan reaksi pada kulitmu. Meski bahan-bahan tersebut tidak selalu bermasalah bagi semua orang, pemilik kulit sensitif sebaiknya lebih cermat dalam memilih produk. Catatan mengenai kandungan yang pernah menyebabkan kemerahan, gatal, atau rasa perih juga bisa membantu saat membandingkan skincare.
- Waspadai kandungan berbahaya.
Periksa apakah produk mencantumkan bahan yang dilarang atau tidak sesuai dengan ketentuan kosmetik yang berlaku. Merkuri, misalnya, dapat dikenali melalui sejumlah nama pada label, seperti mercurous chloride, calomel, mercuric, dan mercurio. Istilah mercury juga merupakan penanda yang perlu diwaspadai. Jika menemukan indikasi kandungan merkuri, jangan gunakan produk tersebut dan periksa informasi keamanannya melalui sumber resmi.
- Periksa status notifikasi BPOM.
Jangan hanya mengandalkan nomor yang tercetak pada kemasan. Cocokkan nomor notifikasi melalui situs atau aplikasi resmi BPOM untuk memastikan nama, merek, dan jenis produk sesuai dengan data yang terdaftar. Pemeriksaan ini menjadi langkah tambahan untuk menilai kelayakan produk sebelum digunakan, terutama ketika membeli skincare dari penjual daring yang belum dikenal.
- Perhatikan tanggal kedaluwarsa dan simbol PAO.
Selain komposisi, periksa tanggal kedaluwarsa serta simbol PAO (Period After Opening) berupa gambar wadah terbuka dengan angka, misalnya 12M. Angka tersebut menunjukkan periode penggunaan yang disarankan setelah produk dibuka, yaitu 12 bulan. Produk yang sudah melewati masa penggunaan yang ditetapkan berpotensi mengalami perubahan kualitas sehingga sebaiknya tidak digunakan sembarangan.
- Lakukan patch test sebelum pemakaian rutin.
Walaupun komposisinya terlihat sesuai, produk baru tetap berpotensi menimbulkan reaksi pada kulit. Karena itu, lakukan uji coba pada area kecil sesuai petunjuk produk dan amati reaksinya. Hindari langsung menggunakan produk baru secara luas, terutama jika kulitmu mudah mengalami iritasi. Jika muncul kemerahan, gatal, atau rasa terbakar, hentikan pemakaian. Perlu diingat, patch test tidak menjamin bahwa reaksi tidak akan muncul saat produk digunakan secara rutin.
Tips singkat: Jika menemukan nama bahan yang asing, cari nama INCI-nya untuk mengetahui nama umum dan fungsinya. Kamu juga bisa menyimpan catatan mengenai bahan yang pernah menimbulkan masalah pada kulit. Dengan begitu, proses memilih produk berikutnya menjadi lebih praktis. Untuk panduan tambahan, kamu bisa membaca tips memilih skincare yang tepat dan memahami informasi yang perlu diperiksa sebelum membeli.
Klaim Marketing dan Bahan yang Perlu Kamu Waspadai
Kemasan skincare sering menampilkan berbagai klaim yang terdengar meyakinkan, mulai dari "natural" dan "clean" hingga "dermatologist-tested" dan "non-toxic". Namun, istilah tersebut tidak selalu memiliki definisi atau standar yang sama. Karena itu, orang yang teliti membaca komposisi tidak langsung menganggap suatu produk aman atau efektif hanya berdasarkan kata-kata yang tercetak di bagian depan kemasan. Mereka tetap memeriksa daftar bahan dan mencari informasi pendukung sebelum memutuskan membeli.
Istilah clean beauty, misalnya, kerap digunakan untuk menggambarkan produk yang dianggap lebih aman atau memiliki formulasi tertentu. Padahal, makna istilah tersebut dapat berbeda antara satu merek dan merek lainnya. Dokter kulit Lindsey Fox, dikutip dari UCSF Magazine, menyatakan:
"Masalah dengan gerakan clean beauty adalah tidak ada definisi untuk 'clean'."
Hal serupa perlu diperhatikan pada label fragrance-free dan unscented. Keduanya tidak selalu memiliki arti yang sama. Produk fragrance-free umumnya diformulasikan tanpa pewangi, sedangkan unscented berarti produk tidak memiliki aroma yang kentara dan masih mungkin menggunakan bahan tertentu untuk menutupi bau. Dokter kulit Marisa Garshick, dikutip dari AOL, mengingatkan bahwa label produk semacam ini perlu dipahami dengan cermat karena istilah yang digunakan tidak selalu menggambarkan seluruh kandungan secara langsung.
Selain klaim pada kemasan, bahan aktif yang sedang populer di media sosial juga perlu disikapi secara kritis. Tidak semua bahan yang viral memiliki bukti ilmiah kuat untuk mendukung manfaat yang dijanjikan. Penelitian mengenai suatu bahan perlu dinilai berdasarkan kualitas bukti, konsentrasi yang digunakan, dan hasil yang benar-benar terukur. Dr. Kseniya Kobets, direktur dermatologi kosmetik di Montefiore Einstein Advanced Care, dikutip dari Yahoo, menyatakan:
"Saya ingin melihat studi prospektif yang dirancang lebih baik sebelum mengatakan kepada pasien bahwa mereka perlu mengeluarkan uang lebih khusus untuk bahan-bahan ini. Menjanjikan tidak sama dengan terbukti."
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa popularitas suatu kandungan tidak otomatis membuktikan efektivitasnya. Sebelum membeli produk karena bahan tertentu sedang tren, periksa manfaat yang didukung penelitian dan pertimbangkan apakah kandungan tersebut memang sesuai dengan kebutuhan kulitmu. Dengan cara ini, kamu tidak mudah mengeluarkan uang untuk produk yang menjanjikan hasil berlebihan tanpa dukungan bukti yang memadai.
Hal lain yang perlu diwaspadai adalah produk pemutih kulit yang menjanjikan perubahan warna kulit secara instan. Produk semacam ini perlu diperiksa dengan cermat, terutama jika tidak mencantumkan komposisi yang jelas, menggunakan label mencurigakan, atau tidak memiliki notifikasi BPOM yang dapat diverifikasi. Merkuri merupakan bahan berbahaya yang dilarang dalam kosmetik, sedangkan hidrokinon tidak boleh digunakan sembarangan dalam kosmetik pemutih kulit dan memiliki ketentuan penggunaan tersendiri. Jangan mudah tergiur janji hasil cepat tanpa mempertimbangkan risiko bagi kesehatan kulit.
Daftar bahan juga perlu dibaca dengan pemahaman bahwa bahkan produk yang populer sekalipun dapat mengandung bahan pemicu alergi bagi sebagian orang. Peneliti dermatologi Steve Xu, dikutip dari NPR, menyatakan:
"Sebagian besar pelembap terlaris yang populer mengandung semacam potensi alergen kulit."
Keberadaan bahan yang berpotensi memicu alergi tidak berarti produk tersebut pasti berbahaya bagi semua pengguna. Namun, informasi ini menegaskan pentingnya menyesuaikan pilihan skincare dengan kondisi kulit masing-masing. Pada akhirnya, membaca komposisi, memeriksa status produk, dan bersikap kritis terhadap klaim pemasaran merupakan langkah yang saling melengkapi agar kamu dapat memilih skincare dengan lebih bijak.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Komposisi Skincare
Apakah bahan aktif yang ada di urutan bawah berarti tidak efektif?
Tidak selalu. Beberapa bahan seperti peptida dan asam hialuronat tetap bekerja di konsentrasi rendah. Tapi kalau bahan andalan yang diiklankan berada di urutan paling akhir dari daftar yang panjang, wajar kalau kamu meragukan seberapa besar efeknya.
Apakah produk berlabel natural pasti aman untuk kulit sensitif?
Belum tentu. Sebagian ekstrak tumbuhan justru termasuk pemicu alergi yang cukup sering, sementara banyak bahan sintetis sudah teruji aman. Cara paling aman tetap membaca daftar bahannya dan melakukan patch test.
Bagaimana cara mengetahui skincare mengandung merkuri?
Periksa label dan cari nama seperti mercurous chloride, calomel, mercuric, mercurio, mercury, atau Hg. Hindari juga produk tanpa daftar bahan, tanpa label resmi, atau tanpa nomor notifikasi BPOM yang bisa diverifikasi.
Membaca komposisi memang terasa ribet di awal, tapi lama-lama jadi kebiasaan yang otomatis. Mulailah dari satu produk yang paling sering kamu pakai, pelajari bahannya, lalu terapkan cara yang sama setiap kali belanja skincare berikutnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378214/original/055597900_1792492609-Screenshot_2026-10-20_171752.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344440/original/084293900_1788945337-cek_fakta_PGI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378118/original/094705800_1792490144-gus_iqdam_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5307544/original/024849800_1754469684-IMG_0583.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298083/original/027726500_1784118767-pexels-sora-shimazaki-5938237.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373173/original/043570100_1791954492-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-14T120512.346.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365320/original/011636800_1791173308-bpom.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362411/original/083226900_1790779631-IMG-20260930-WA0058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545951/original/047112300_1775226794-ilustrasi_obat_anti_nyeri.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5541898/original/065702400_1774924493-IMG_8482.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295138/original/014802100_1783915653-mbg5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520865/original/079839100_1782448478-1000568315.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306503/original/053726500_1784881133-WhatsApp_Image_2026-07-23_at_21.25.34.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4016443/original/049851300_1652011956-roberto-sorin-RS0-h_pyByk-unsplash.jpg)