Memangkas berat badan menjadi salah satu kunci penting bagi penderita prediabetes. Hal ini dilakukan agar kondisinya tidak berkembang menjadi lebih buruk.
Namun, tak sedikit yang merasa kesulitan memangkas berat badan hingga nekat jalani diet ekstrem, seperti makan satu kali sehari atau one meal a day (OMAD).
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa pada kondisi prediabetes, perhitungan asupan karbohidrat dan pengaturan pola makan harus dilakukan dengan sangat cermat. Hal ini dilakukan agar tidak memicu lonjakan gula darah maupun gagal diet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kalau sudah ada prediabetes, artinya kita sudah tahu risikonya kalau misalnya karbohidrat terlalu tinggi, terlalu banyak gula atau tepung-tepungan, akan jatuh ke diabetes melitus," ujar dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (15/10/2026).
dr Yaze menegaskan bahwa penderita prediabetes tidak disarankan memotong frekuensi makan secara ekstrem hingga hanya satu kali sehari. Sebab, itu justru berisiko memicu penurunan gula darah drastis (hipoglikemia).
"Kalau misalnya sehari sekali makan, misalnya cuma siang saja, sebenarnya waktu puasanya akan terlalu lama. Kita takut terjadi hipoglikemia. Jadi kayak kadar gula di dalam darahnya itu sangat rendah di bawah normal. Kita nggak mau juga terjadi itu karena bisa terjadi malah drop nanti gulanya, bisa malah pingsan," tegas dr Yaze.
Baca juga: 23 Small High Bathroom The Experts Quick Off |
Bagi Porsi Makan dan Atur Jadwal Olahraga
Daripada melahap seluruh porsi kalori harian sekaligus dalam satu kali makan besar, dr Yaze menyarankan untuk membaginya secara bertahap dalam tiga kali waktu makan agar kadar gula darah tetap stabil.
"Lebih baik kita atur pola makannya, misalnya makan 3 kali tetap tapi porsinya mulai dibagi. Kalau misalnya kebutuhan energi kamu dalam sehari itu 1.500 kkal, berarti misalnya pagi saya kasih di 450 kalori, nanti siang 550, terus malamnya baru 500," terang dr Yaze.
"Mendingan kita bagi daripada sehari cuma makan 1 kali langsung 1.500 kalori, takutnya nanti lonjakan gula darahnya malah jadi lebih tinggi," sambungnya.
Mengenai aktivitas fisik, dr Yaze menyarankan agar latihan beban dikombinasikan secara konsisten dengan olahraga kardio untuk memaksimalkan pembakaran lemak tubuh.
"Tadi sudah benar ada latihan beban, cuma kalau bisa bukan cuma 1 kali. Dan latihan beban itu juga seminggu bukan cuma 1 kali juga, terus dibarengin sama latihan kardio supaya berat badannya juga bisa terbakar cepat si lemaknya. Sama si latihan bebannya juga kalau bisa seminggu 2 kali dulu, jadi pelan-pelan bertahap baru naik," pungkasnya.
(sao/kna)

























































