Liputan6.com, Jakarta - Anak-anak mungkin tidak selalu mengingat barang mewah atau mainan mahal yang pernah diberikan kepada mereka. Namun, mereka akan selalu mengenang bagaimana perasaan mereka saat menghabiskan waktu bersama keluarga. Oleh karena itu, menerapkan kebiasaan sederhana orangtua buat anak merasa dihargai sangatlah penting untuk kesehatan emosional si kecil.
Perasaan dihargai dan dicintai tidak melulu harus dibangun lewat perayaan besar atau pujian selangit setiap harinya. Perhatian tulus yang dilakukan secara konsisten justru lebih efektif dalam meyakinkan anak bahwa dirinya penting, diterima, dan memiliki tempat yang aman di tengah keluarganya. Sikap keseharian ini akan menjadi fondasi kuat bagi mental mereka di masa depan.
Ketika anak merasa pendapat dan perasaannya dihormati oleh sosok terdekatnya, mereka cenderung lebih mudah membangun hubungan sosial yang sehat. Mengutip dari Times of India dan panduan UNICEF, berikut Liputan6.com merangkum tujuh langkah praktis yang bisa mulai diterapkan di rumah untuk mempererat ikatan batin antara orangtua dan buah hati, Selasa (20/10/2026).
Advertisement
1. Tanyakan Detail Kecil, Bukan Hanya Peristiwa Besar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4823411/original/015105800_1714990585-IMG_2377.jpeg)
Pertanyaan umum seperti "Bagaimana sekolahmu hari ini?" memang baik untuk membuka percakapan, tetapi sering kali hanya mendapat jawaban singkat. Cobalah untuk menggali lebih spesifik mengenai keseharian anak, misalnya menanyakan tentang gambar yang mereka buat, obrolan lucu bersama teman, atau permainan apa yang paling seru saat jam istirahat.
Mengutip panduan pola asuh UNICEF, bertanya tentang detail kecil menunjukkan bahwa pengalaman sehari-hari anak sangat berharga di mata orangtua.
Ketertarikan yang tulus pada hal-hal sepele ini akan membuat anak merasa cerita dan kehidupannya selalu ditunggu serta didengarkan dengan baik oleh ayah dan ibunya.
Advertisement
2. Berikan Perhatian Penuh Tanpa Distraksi
Anak sebenarnya tidak selalu menuntut waktu berjam-jam untuk bisa merasa dekat dengan orangtuanya. Terkadang, cukup beberapa menit perhatian penuh tanpa adanya gangguan dari layar ponsel, laptop, atau televisi sudah menjadi momen yang sangat bermakna bagi mereka.
Orangtua bisa mempraktikkan hal ini dengan duduk sejajar di dekat anak, menatap matanya, dan mendengarkan keluh kesahnya sampai selesai sebelum memberikan respons atau nasihat.
Walau ceritanya hanya soal pensil patah di sekolah, kontak mata dan respons penuh perhatian ini membuktikan bahwa mereka adalah prioritas utama.
3. Hargai Proses dan Usaha yang Sering Terabaikan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375482/original/063395700_1792148706-happy-cheerful-asian-family-dad-mom-daughter-playing-funny-game-as-doctor-having-fun-sofa-home.jpg)
Sering kali orang dewasa hanya memuji hasil akhir dengan ucapan "Bagus sekali" atau "Pintar". Meski berniat baik, pujian semacam ini bisa terasa hampa jika diucapkan terlalu sering. Sebaliknya, memberikan apresiasi pada proses dan usaha spesifik yang dilakukan anak akan jauh lebih membekas di hati mereka.
Alih-alih sekadar memuji nilai ujian, orangtua bisa mengatakan, "Ayah bangga kamu tidak gampang menyerah merakit mainan itu meski awalnya sulit."
Pesan ini menyiratkan bahwa usaha pantang menyerah mereka benar-benar dilihat, diakui, dan dihargai, bukan semata-mata menuntut kesempurnaan.
Advertisement
4. Ciptakan dan Pertahankan Ritual Kecil Bersama
Rutinitas yang dilakukan secara konsisten dapat menciptakan rasa aman, nyaman, dan kedekatan emosional yang kuat bagi anak. Ritual ini tidak harus rumit atau memakan biaya; bisa sesederhana tos tangan dengan gaya khusus, jalan santai di hari Minggu pagi, atau sekadar mengobrol lima menit sebelum mematikan lampu kamar.
Kekuatan utama dari ritual ini terletak pada sifatnya yang dapat diprediksi oleh anak. Mereka menjadi paham bahwa apa pun yang terjadi hari itu, selalu ada ruang dan waktu khusus di mana mereka bisa terhubung kembali secara intens dengan orangtuanya.
5. Libatkan Anak dalam Keputusan Keluarga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370816/original/085292500_1791698091-2148350734.jpg)
Memberikan ruang bagi anak untuk ikut berkontribusi dalam kehidupan sehari-hari sangat efektif menumbuhkan perasaan bahwa keberadaan mereka diakui. Orangtua bisa mulai dengan meminta pendapat anak saat menentukan menu makan malam, menata ruang keluarga, atau memilih destinasi liburan akhir pekan.
Melibatkan anak bukan berarti memberikan mereka kekuasaan penuh layaknya orang dewasa. Sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa suara dan usaha mereka memiliki tempat istimewa.
Anak belajar bahwa mereka bukan sekadar penerima aturan, tetapi anggota tim keluarga yang keberadaannya sangat dihargai.
Advertisement
6. Validasi Perasaan Mereka di Saat Sulit
Saat anak menangis karena permainannya kalah atau marah karena hal kecil, orang dewasa sering merespons dengan menyuruh mereka untuk segera berhenti bersedih. Padahal, memvalidasi atau mengakui perasaan tidak nyaman yang sedang mereka alami adalah kunci penting agar anak merasa dipahami.
Dengan mengatakan, "Ibu mengerti kamu pasti kecewa sekali karena tidak bisa pergi bermain hari ini," orangtua memberikan ruang aman bagi anak untuk memproses emosinya. Pendekatan ini mengajarkan bahwa semua bentuk emosi adalah hal yang valid dan orangtua akan selalu mendampingi mereka tanpa menghakimi.
7. Jangan Ragu Meminta Maaf Jika Berbuat Salah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372413/original/035145900_1791879035-mom-watching-television-with-her-children.jpg)
Orangtua adalah manusia biasa yang pastinya tidak luput dari kesalahan, entah itu kelepasan marah, salah paham, atau lupa menepati janji kecil. Meminta maaf dengan tulus kepada anak ketika melakukan kekeliruan adalah bentuk penghormatan dan penghargaan tertinggi terhadap perasaan si kecil.
Sikap rendah hati ini sama sekali tidak akan meruntuhkan wibawa orangtua di mata anak. Justru, anak akan belajar dari keteladanan tersebut bahwa meminta maaf adalah tindakan berani. Mereka juga akan merasa sangat dihargai karena tahu perasaannya dijaga dan dihormati oleh orang dewasa.
Advertisement
Tanya Jawab Seputar Kebiasaan Sederhana Orangtua Buat Anak Merasa Dihargai
1. Mengapa anak sangat perlu merasa dihargai di lingkungan rumah?
Agar mereka tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi, memiliki pandangan positif terhadap dirinya sendiri, dan mampu membangun hubungan sosial yang sehat di luar rumah pada masa depan.
2. Apakah memberikan pujian setiap saat kepada anak itu baik?
Lebih baik berikan pujian yang spesifik pada usaha dan proses anak daripada pujian umum (seperti "kamu pintar") yang terus diulang-ulang. Apresiasi spesifik terasa lebih tulus dan bermakna.
3. Bagaimana cara paling mudah memberikan perhatian penuh pada anak di tengah kesibukan?
Sisihkan waktu beberapa menit saja secara khusus. Letakkan ponsel Anda, tatap mata anak sejajar saat mereka berbicara, dan dengarkan ceritanya sampai tuntas tanpa memotong.
4. Apa contoh ritual kecil yang bermakna bagi anak?
Ritual bisa berupa membacakan buku cerita sebelum tidur, melakukan gaya salam (tos) unik sebelum berangkat sekolah, atau sekadar jalan santai bersama setiap Minggu pagi.
5. Bolehkah orangtua meminta maaf kepada anak jika melakukan kesalahan?
Tentu saja sangat dianjurkan. Meminta maaf saat berbuat salah mengajarkan anak tentang empati, kerendahan hati, dan menunjukkan bahwa orangtua sangat menghargai perasaan anak layaknya individu dewasa.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378118/original/094705800_1792490144-gus_iqdam_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5307544/original/024849800_1754469684-IMG_0583.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2845750/original/003475400_1562319949-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5288151/original/067339000_1752895807-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375483/original/063094200_1792148708-pexels-pavel-danilyuk-8205086.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)