Ada banyak cara menuju Bandung dari Jakarta. Bisa duduk nyaman di dalam Whoosh, menyetir kendaraan pribadi, atau naik bus sambil menikmati pemandangan dari balik jendela. Tapi delapan orang ini memilih cara yang mungkin paling tidak biasa, berlari.
Bukan sekadar lari pagi atau mengejar personal best, mereka menjadikan perjalanan Jakarta-Bandung sebagai sebuah petualangan. Dari gemerlap Jakarta pada malam hari, melewati Depok dan Bogor, menembus jalur pegunungan Puncak-Cianjur, hingga akhirnya tiba di Bandung.
Delapan pelari detikcomRunners tersebut adalah Andhika Prasetya, Marsyanda Syifa Adiba, Agus Tri Haryanto, Muhammad Fadhlurrohman, M. Hardianto, Muhammad Ai, Sukma Noviansyah, dan Femi Diah. Mereka berasal dari berbagai divisi di detikcom dan bergantian membawa estafet menuju Kota Kembang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, perjalanan sejauh ini tentu tidak hanya mengandalkan delapan pasang kaki. Di belakang mereka ada tim support dan marshal yang memastikan estafet tetap berjalan sekaligus membantu menjaga keamanan para pelari, terutama ketika mereka harus bergerak pada malam hari dan melewati jalur yang cukup ramai.
Muhammad Ai di ITB Ultra Marathon 2026 (istimewa) |
Perjalanan dimulai dari kawasan Senayan, tepatnya di sekitar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti), pada Jumat (16/10/2026), pukul 21.09 WIB.
Saat Jakarta mulai memasuki malam, Ai mengambil langkah pertama. Ia berlari meninggalkan kawasan Senayan menuju Depok. Dari Depok, estafet berpindah ke Toro, sapaan karib M. Hardianto, yang melanjutkan perjalanan menuju Bogor.
Perlahan, lanskap metropolitan Jakarta mulai ditinggalkan. Jalanan kota berganti dengan suasana yang semakin mengarah ke kawasan selatan Jawa Barat.
Dan perjalanan belum benar-benar terasa berat. Sampai mereka mendekati Puncak. Puncak, destinasi favorit yang identik dengan kemacetan. Bagi warga Jakarta, Puncak punya hubungan yang unik. Kawasan pegunungan ini menjadi salah satu pilihan favorit untuk melepas penat dari hiruk-pikuk ibu kota.
Udara yang lebih sejuk, hamparan perkebunan, perbukitan, dan suasana yang jauh berbeda dari Jakarta membuat Puncak hampir selalu ramai saat akhir pekan. Apalagi, ketika libur panjang tiba.
M. Hardianto di ITB Ultra Marathon 2026 (Istimewa) |
Jalan menuju Puncak bisa berubah menjadi lautan kendaraan. Mobil dan bus wisata mengular, sementara perjalanan yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu relatif singkat bisa terasa jauh lebih lama.
Delapan pelari detikcomRunners justru melihat Puncak dari perspektif yang berbeda. Mereka tidak duduk di balik kaca kendaraan. Mereka berlari melewati jalur yang biasanya dipenuhi kendaraan wisatawan.
Setelah Toro menyelesaikan bagiannya di Bogor, Rohman mengambil alih estafet. Namun, perjalanan menuju Bandung tidak harus selalu dikejar tanpa jeda.
Muhammad Fadhlurrohman di ITB Ultra Marathon 2026. (istimewa) |
Tim memutuskan bermalam satu malam di Puncak sebelum perjalanan dilanjutkan oleh peserta lain, tim yang menanti beristirahat sejenak di Puncak.
Nah, untuk sebuah perjalanan ramai-ramai, pilihan menginap ini juga cukup ramah di kantong. Sebuah cottage di kawasan Puncak dengan tarif sekitar Rp 500 ribuan per malam sudah mendapatkan dua kamar, sehingga bisa digunakan untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Pilihan sederhana ini sekaligus memberi gambaran bahwa perjalanan akhir pekan ke Puncak tidak selalu harus identik dengan akomodasi mahal. Yang penting, tempatnya cukup nyaman untuk mengisi kembali tenaga. Apalagi perjalanan berikutnya justru menjadi salah satu bagian paling menantang.
Setelah beristirahat, perjalanan kembali dilanjutkan menuju kawasan Puncak hingga Cianjur. Di bagian ini, peran tim support dan marshal semakin penting.
Para pelari harus terus bergerak mengikuti pembagian estafet, sementara kondisi jalan berubah-ubah dan sebagian perjalanan berlangsung dalam kondisi gelap. Tim support membantu memastikan kebutuhan pelari terpenuhi, sedangkan marshal mendampingi pergerakan mereka agar tetap aman di lintasan.
Tidak ada kemewahan dalam perjalanan ini. Pelari hanya perlu terus menyelesaikan bagian masing-masing sebelum menyerahkan estafet kepada orang berikutnya.
Andhika di ITB Ultra Marathon 2026 tertangkap kamera saat berlari di dekat botol kecap yang ikonik di Cianjur. (Dikhy Sastra) |
Jalur menuju Cianjur memiliki tanjakan dengan elevasi yang mencapai sekitar 1.000 meter. Bagi pelari, perubahan kontur seperti ini tentu bukan perkara kecil. Setelah Rahman, Sukma melanjutkan estafet.
Udara malam yang dingin menjadi teman perjalanan. Namun, kesejukan itu datang bersama tanjakan yang menguras tenaga.
Untuk membantu menjaga kenyamanan kaki sepanjang perjalanan, para pelari menggunakan sepatu yang pas buat log run.
Setelah Sukma, giliran Andhika berlari. Buat Andhika, jalur Puncak ini bukan rute yang asing, tetapi biasanya dia melewati dengan kendaraan.
Bukan naik Whoosh atau bus, detikcomRunners sampai di kampus Ganesha ITB Bandung dengan berlari di ITB Ultra Marathon 2026. (Dikhy Sastra) |
"Ini jadi pengalaman pertama cobain 'wisata' yang nggak bisa di Puncak. Kalau biasanya naik kendaraan, kali ini lari. Nah ini unik juga lari estafet berdelapan dan saya kebagian jalur Melrimba Garden Puncak Pass ke Cianjur. Saya start jam setengah 09.00 dan finish jam 10.30," kata Dhika.
"Tantangan di sini adalah turunan panjang yang menuntut saya ekstra hati-hati supaya kaki tidak terkilir. Sepanjang rute, banyak spot wisata yang saya lewati seperti Puncak Pass, wisata kuliner sate maranggi di Cipanas, persimpangan menuju basecamp Gunung Gede-Pangrango, sampai Istana Cipanas. So far, ini lari 22 kilometer yang sangat berkesan buat saya," kata Dhika lagi.
Agus Tri Haryanto di ITB Ultra Marathon 2026. (Dikhy Sastra) |
Kemudian Agus mengambil bagian berikutnya. "Ini pengalaman saya masuk dalam tim relay Jakarta-Bandung ini. Saya kebagian jalur Cijedil-Ciherang-Cipeuyeum, pas jam siang, tepatnya jam 11.00," kata Agus.
Di segmen tersebut dihadapi dengan turunan dari Puncak sampai melewati kota Cianjur dengan jarak 22,9km. Suasana yang mulanya adem, lalu terbuka dengan pemandangan sawah di pinggir jalan. Cuaca yang panas jadi tantangan, namun setelah finish di lokasi transfer pelari, akhirnya jadi lega karena diguyur air," ujar Agus lagi.
Setelah Agus menyelesaikan jalurnya, disusul Asya. Rute yang dilalui Asya relatif berat. Dia harus berlari saat tengah hari menuju sore dengan jalur yang biasa dilalui truk besar dengan jalur berdebu.
"Ketika orang-orang bilang Cipatat buka untuk yang lemah, aku sekarang ngerti maksudnya. Definisi cobaan hidup yang harus dicobain", kata Asya.
Asya di ITB Ultra Marathon 2026. (istimewa) |
Satu demi satu kilometer dilalui. Yang menarik, tidak ada satu orang yang harus menempuh seluruh perjalanan sendirian. Ketika seorang pelari berada di lintasan, pelari lainnya menunggu giliran. Tim support dan marshal ikut bergerak mengikuti perjalanan, memastikan estafet tidak terputus dan para pelari dapat menyelesaikan bagian masing-masing dengan aman.
Perjalanan panjang Jakarta-Bandung pun berubah menjadi perjalanan bersama. Setelah melewati Jakarta, Depok, Bogor, Puncak dan Cianjur, lanskap perjalanan perlahan berubah.
Femi Diah di ITB Ultra Marathon 2026 (istimewa) |
Pelari terakhir, Femi, mengambil bagian penutup. Langkahnya membawa estafet menuju Kampus ITB Ganesha. Pada Sabtu (17/10), pukul 21.30 WIB, perjalanan itu akhirnya selesai. Setelah dikalungi medali dan mendapatkan jersey finisher, mereka berburu kuliner malam di Bandung, kemudian lanjut ke penginapan.
Jika biasanya wisatawan Jakarta tiba di Bandung setelah duduk berjam-jam di dalam kendaraan atau kurang dari satu jam dengan kereta cepat, mereka tiba dengan cerita yang sama sekali berbeda.
detikcomRunners di ITB Ultra Marathon 2026. (Dikhy Sastra) |
Perjalanan tidak berhenti ketika garis finis dilewati. Justru di sinilah bagian yang biasanya dicari wisatawan Jakarta dimulai menikmati Bandung. Setelah menuntaskan perjalanan panjang, tim detikcomRunners beristirahat di salah satu hotel bintang 4 di Bandung.
Hotel bintang empat tersebut menjadi tempat untuk mengembalikan tenaga setelah perjalanan panjang dari Jakarta. Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan ketika berada di Bandung, yakni kuliner.
Setelah perjalanan sejauh itu, wisata kuliner menjadi penutup yang pas. Tim kemudian mencicipi hidangan khas Sunda di Kedai Makan Bu Imas. Menu khas Sunda dengan nasi hangat, lauk, lalapan, dan sambal menjadi semacam hadiah setelah perjalanan panjang.
"Tahun depan kita coba lagi," seloroh Dhika.
Buat traveler yang ingin menjajal perjalanan ini nggak bisa modal dengkul saja ya. Buat lari dari Jakarta ke Bandung yang total jaraknya 180 km dan dibagi berdelapan, masing-masing rata-rata 22 km, dilakukan dengan persiapan matang. termasuk latihan lari jarak jauh.



































































