Universitas Hasanuddin (Unhas) berkolaborasi bersama Kedutaan Besar (Kedubes) Inggris untuk Indonesia dalam pengembangan ekonomi hijau. Kolaborasi dibangun salah satunya melalui riset.
Kolaborasi itu disampaikan Dubes Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey dalam kuliah umum di Ruang Senat Rektorat Unhas, Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (19/10/2026). Kuliah umum mengusung tema "Green Economy and Low-Carbon Growth: The UK and Indonesia's Shared Agenda for the Future".
"Hari ini di Unhas, kita melihat satu-satunya contoh nyata, bagaimana kemitraan ini dapat ditajamkan menjadi solusi yang praktis," ujar Dominic Jermey dalam paparannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dominic Jermey mengatakan, Unhas sedang mengembangkan dan menekankan pengelolaan sampah serta ekonomi sirkular melalui Low Carbon Building Initiative (LCBI). Menurutnya, ini bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan contoh bagaimana perusahaan berinovasi, bersama pemerintah daerah, kampus, serta komunitas.
"Mitra pembangunan dapat bekerja bersama untuk menjawab tantangan lokal, sekaligus membuka peluang ekonomi kembali," ucapnya.
Dia turut menyebut Unhas memiliki keahlian yang sangat luas. Mulai dari pertanian, peternakan, perhutanan, kelautan, teknik, hingga ekonomi.
"Semua bidang ini sangat relevan ketika kita berbicara tentang bagaimana ekonomi dapat terus tumbuh, dan menjadikan kelompok masyarakat sekaligus menjaga lingkungan," bebernya.
Sementara itu, Rektor Unhas Jamaluddin Jompa mengatakan kedatangan Dubes Inggris di Unhas merupakan misi untuk mengembangkan riset. Jamaluddin juga menyampaikan telah berhasil mengonversi sampah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
"Misinya adalah bagaimana mengembangkan riset untuk mendapatkan solusi-solusi. Jadi hasil riset itu harus menjadi solusi. Hari ini kita kemudian mengonversi sampah, itu menjadi sumber daya yang sangat bermanfaat," terang pria yang akrab disapa Prof JJ itu.
Ia juga menyampaikan, low carbo bukan sebagai kesadaran perubahan iklim. Menurutnya, ini dapat menjadi program untuk dikonversi menjadi sesuatu hal yang bermanfaat tak hanya pada lingkungan namun juga ekonomi, sosial, dan masyarakat.
"Program ini kemudian kita konversi menjadi sesuatu yang bermanfaat langsung bukan hanya pada lingkungan tapi juga bermanfaat kepada ekonomi, sosial, dan masyarakat," jelas Prof JJ.































































