Usai menjalani operasi pemisahan selama 36 jam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), bayi kembar siam NA 1 dan NA 2 kini memasuki fase pemulihan krusial.
Setelah lebih dari satu bulan dirawat intensif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU), kondisi klinis kedua bayi dilaporkan semakin stabil hingga dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Ketua Tim Bedah Pemisahan Kembar Siam Bayi NA 1 dan 2, Prof Dr dr R.A. Setyo Handryastuti, SpA, Subsp.Neuro mengonfirmasi, penanganan medis kedua bayi pascaoperasi telah menunjukkan perkembangan yang sangat positif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah hari ini sangat stabil, ya. Jadi, perawatan luka operasi juga masih berjalan, anaknya tidak ada demam dan sudah minum melalui mulut juga sudah mulai penuh, ya. Dan hari ini alhamdulillah kita pindah ke ruang perawatan biasa," ucap Prof Handryastuti saat ditemui wartawan di RSCM, Senin (19/10/2026).
"Ke depannya kemungkinan masih ada beberapa step lagi, operasi-operasi ya, karena ini kan fokus kita sekarang adalah pasca operasi yang pertama. Tetapi, selanjutnya tentu ada operasi-operasi lanjutan untuk meyakinkan bahwa anak NA 1 dan NA 2 ini bisa berperan sebagai seorang anak yang seoptimal mungkin, gitu ya," tambahnya.
Perbedaan Perkembangan Fisik dan Pencernaan Keduanya
Meski kondisi keduanya stabil, tim medis mencatat adanya perbedaan kondisi organ pencernaan serta laju tumbuh kembang antara bayi NA 1 dan NA 2.
Bayi NA 1 memiliki saluran pencernaan lengkap hingga usus besar, sedangkan bayi NA 2 hanya memiliki usus halus.
Kendati demikian, bayi NA 2 justru menunjukkan kemampuan pemulihan dan peningkatan berat badan yang lebih cepat.
"Kemampuan minumnya (bayi NA 2) jauh lebih cepat, naiknya dibandingkan yang kakaknya. Jadi berat badannya juga naiknya lebih cepat," katanya.
Fase Pemulihan Luka dan Evaluasi Anus
Proses pemulihan fisik secara utuh diperkirakan membutuhkan waktu hingga bertahap.
Sebelum merencanakan tindakan bedah berikutnya, tim dokter berfokus penuh pada penyembuhan luka pascaoperasi pemisahan panggul dan pembuat saluran pembuangan sementara (stoma).
"Sekarang lukanya dulu, lukanya sembuh, pulang dulu anaknya. Nanti baru kita rencanakan operasi-operasi selanjutnya," paparnya.
Untuk jangka waktu pemulihan pascaoperasi pemisahan, ia mengatakan, perlu menunggu waktu 6 bulan sampai paling lama 1 tahun.
Kemudian, terkait pembuatan anus permanen, tim medis akan terlebih dahulu mengevaluasi kekuatan otot dasar panggul sang adik. Jika otot panggul tidak memadai untuk menopang fungsi anus, stoma pembuangan kotoran di perut akan tetap dipertahankan.
Rencana Rekonstruksi Alat Kelamin Jangka Panjang
Selain fungsi pencernaan, agenda tindakan medis berkelanjutan yang diperkirakan oleh RSCM adalah rekonstruksi alat kelamin dan saluran kencing (uretra).
Dokter Spesialis Bedah Plastik RSCM yang juga tergabung dalam tim pembedahan, Dr dr Indri Aulia, SpBRE, Subsp.GE(K), MPd.Ked mengungkapkan, rekonstruksi kelamin akan dilakukan secara bertahap hingga pasien tumbuh dewasa demi menunjang kualitas hidup keduanya.
"Insya Allah di ke depannya juga kita harus memikirkan, karena tadi disebutkan oleh dokter Riana, bahwa ada kemaluannya yang bersatu dan dipisah. Dan kita harus memikirkan rekonstruksi kemaluannya di kemudian hari," ujar Dr dr Indri.
"Jadi, pasien ini merupakan pasien yang bisa dilakukan rekonstruksi sampai jangka panjang, sampai dia dewasa. Sehingga, dia bisa mempunyai quality of life yang baik di kemudian hari," tambahnya.
Simak Video "Video Kemenkes Rujuk Siswa Korban Hilang Ingatan gegara Keracunan MBG ke RSCM!"
[Gambas:Video 20detik](aur/up)

























































