Sejumlah pedagang di Pasar Galiran, Klungkung, Bali, memilih tidak berjualan. Kondisi ini dipengaruhi perayaan Buda Cemeng Klau serta kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang diduga turut berdampak pada penurunan aktivitas pasar.
Kepala UPTD Pengelolaan Pasar pada Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Klungkung, I Wayan Rasem, mengatakan penurunan aktivitas pasar terlihat dari berkurangnya pendapatan retribusi pedagang di kawasan pelataran. Yang biasanya normal di angka Rp 9 juta per hari, mengalami penurunan drastis hingga menyisakan sekitar Rp 7 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Puncaknya kemarin, Rabu (14/10), yakni puncak perayaan, pendapatan menyentuh angka Rp 2 juta," terang Rasem pada detikBali, Kamis (15/10/2026).
Penurunan aktivitas ini dirasakan secara keseluruhan di kawasan yang ada di Bumi Serombotan. Khususnya di Pasar Galiran yang merupakan pasar terbesar di Klungkung.
Faktor hari raya dijelaskan menjadi hal yang paling dominan membuat pedagang memilih libur. Namun, dampak kelangkaan BBM juga tidak ia tampik menjadi penyebab utama penurunan pendapatan tersebut.
Menurut Rasem, BBM yang sulit didapatkan memiliki kemungkinan membuat sebagian pedagang memilih tidak berani mengambil risiko untuk berangkat berjualan.
"Tapi yang sudah pasti adalah karena hari raya. Sedangkan penyebab karena kelangkaan BBM ini masih kami dalami. Karena kebetulan jatuhnya di saat hari raya. Sehingga belum bisa kami pastikan juga," terang Rasem.
Pihak UPTD Pengelolaan Pasar masih terus memantau dan menunggu data lapangan secara lengkap untuk memastikan persentase penurunan harian pedagang selama periode libur hari raya tersebut.
"Untuk data hari ini masih dalam proses. Normalnya sehari kami dapat dari retribusi lapak pedagang yang dibayarkan Rp 3 ribu per lapak sekitar Rp 9 juta. Jadi penurunan sampai Rp 2 juta itu memang sangat besar," pungkasnya.

















































