Indonesia Health Development Center (IHDC) merilis hasil studi mengenai beban kognitif pada anak sekolah dasar (SD) di wilayah perkotaan Jakarta. Studi terhadap 1.007 siswa kelas 4, 5, dan 6 di empat SD negeri di Jakarta menemukan fakta mengkhawatirkan.
Sebanyak 68,5 persen atau hampir 7 dari 10 responden memiliki fungsi kognitif harian yang kurang baik, serta 49,3 persen siswa tercatat memiliki skor harapan dan imajinasi masa depan yang rendah.
Fungsi kognitif harian tidak hanya diukur dari nilai rapor atau tes IQ, melainkan mencakup kemampuan siswa dalam memusatkan perhatian, mengingat informasi, mengolah materi pelajaran, hingga berinteraksi dengan teman sebaya dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Sementara itu, daya imajinasi masa depan menjadi modal krusial dalam membentuk karakter anak yang inovatif guna menyongsong Indonesia Emas 2045.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia Emas 2045 dimulai dari anak-anak yang duduk di bangku sekolah hari ini. Kita perlu memastikan mereka dapat melihat dengan jelas, belajar dengan tenang, dan memiliki keyakinan untuk meraih masa depan," sebut Prof Nila F Moeloek, Ketua Dewan Pembina IHDC yang juga Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019 saat ditemui di Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).
Beban Kognitif Utama Temuan Peneliti
Direktur Eksekutif IHDC sekaligus Ketua Tim Peneliti, dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa studi ini memotret kondisi riil anak perkotaan melalui metode potong lintang (cross-sectional). Tim peneliti mengidentifikasi empat beban utama yang menghambat performa kognitif anak Indonesia, yaitu gangguan penglihatan, defisiensi zat besi, kurangnya asupan protein dan energi, serta gangguan kesehatan jiwa.
Hasil pemeriksaan medis dan pengukuran klinis menunjukkan:
- Gangguan Penglihatan: Sebanyak 303 siswa (sekitar 30 persen) mengalami gangguan refraksi yang membutuhkan koreksi kacamata. Analisis menunjukkan kelompok dengan risiko gangguan penglihatan sedang hingga tinggi berisiko mengalami gangguan kognitif harian 3,1 kali lebih besar dibanding anak yang tidak berisiko.
- Kesehatan Jiwa dan Emosi: Risiko ansietas (kecemasan) tinggi berkorelasi dengan peningkatan odds gangguan kognitif harian sebesar 3,3 kali, sedangkan risiko depresi tinggi berkorelasi sebesar 2,5 kali.
- Asupan Gizi: Penilaian asupan nutrisi mengonfirmasi masih tingginya hambatan terkait kecukupan zat besi dan protein harian anak.
"Anak yang sulit fokus perlu diperiksa kesehatannya, bukan buru-buru dicap malas. Kesulitan melihat papan tulis atau kecemasan yang tidak tertangani berhubungan langsung dengan kesulitan belajar harian. Setiap angka dalam studi ini mewakili anak yang berhak memperoleh kesempatan belajar sebaik mungkin," tegas dr Ray.
Atas temuan ini, IHDC mendorong dua intervensi konkret yang dapat segera diterapkan di lingkungan sekolah. Pertama, penyelenggaraan skrining mata berkala di sekolah yang terintegrasi langsung dengan pemberian kacamata gratis bagi siswa yang membutuhkan.
Selain itu diperlukan juga penyediaan jalur rujukan psikologis dan pendampingan emosional di sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, empati, dan inklusif.

























































