Warga mengeluhkan mata perih akibat munculnya fenomena udara kabur (haze) di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Langit Labuan Bajo tampak berkabut.
"Mata terasa perih," kata Ferdi, warga Labuan Bajo, Senin (19/2026) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haze adalah fenomena atmosfer yang disebabkan oleh partikel-partikel kecil yang mengaburkan pandangan dan mengurangi kejernihan langit. Fenomena ini kerap terjadi ketika ada akumulasi debu, asap, atau uap air di atmosfer yang menghalangi cahaya.
Udara kabur di Labuan Bajo muncul sejak pagi. Hingga malam ini, fenomena haze itu masih terjadi. "Sampai sekarang," ujar Ferdi.
Berdasarkan video yang diperoleh detikBali, warga mengaitkan fenomena haze ini sebagai asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di luar wilayah NTT. Fenomena haze juga muncul wilayah lain di NTT.
Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena haze di Labuan Bajo menyebabkan jarak pandang terbatas sekitar empat kilometer(km). Kelompok sensitif seperti anak-anak hingga penderita saluran pernapasan membatasi beraktivitas di luar rumah.
"Kami imbau bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta penderita saluran pernafasan untuk membatasi aktivitas berat di luar ruangan apabila udara berasap atau berdebu," kata Kepala Stasiun Meteorologi Komodo Maria Patricia Christin Seran, Senin.
"Apabila kemudian muncul gangguan pernapasan, masyarakat disarankan dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan," imbuh dia.
Maria mengatakan fenomena haze di Labuan Bajo ini ada kemungkinan dari sebaran kabut asap Karthutla dari luar wilayah NTT. Kendati demikian, ia menegaskan perlu analisis lebih lanjut mengenai penyebab fenomena haze tersebut. Sebab, partikel yang membentuk udara kabur itu bukan hanya bersumber dari asap.
"Berdasarkan pemantauan kondisi meteorologi, pola angin di wilayah NTT masih didominasi angin dari arah timur. Pola angin tersebut secara meteorologis memungkinkan terjadinya transportasi partikulat dari wilayah di sebelah timur NTT. Apabila terdapat sumber emisi berupa kebakaran hutan dan lahan di wilayah timur, partikulat yang dihasilkan bisa berpotensi terbawa oleh aliran udara ke wilayah NTT," jelas Maria.
"Untuk menguatkan dugaan transportasi jarak jauh ini, perlu analisis angin lapisan atas dan analisis lebih lanjut," sambungnya.
Maria menjelaskan, untuk wilayah NTT yang dikelilingi laut, aerosol juga dapat berasal dari percikan air laut yang menghasilkan partikel garam dan terangkat ke atmosfer. Oleh karena itu, indikasi sebaran partikulat halus dan aerosol berdasarkan pemodelan BMKG tidak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi tersebut hanya disebabkan oleh kabut asap kebakaran.
"Penentuan sumber partikulat memerlukan analisis lebih lanjut, sedangkan kondisi kualitas udara aktual perlu dikonfirmasi melalui pengukuran langsung," ujar Maria.

















































