Di tengah tebing karang Green Canyon, Pangandaran, ada satu tempat yang membuat pengunjung seperti berdiri di bawah hujan meski langit sedang cerah. Air terus menetes deras dari sela akar pohon dan jatuh ke sungai di bawahnya, sehingga warga menyebutnya sebagai 'pohon hujan abadi'.
Perahu kecil berwarna biru itu bergoyang pelan ketika mesinnya dimatikan pada Sabtu (26/9/2026). Di depan kami, tebing batu berlumut menjulang tinggi, dan air hijau kebiruan mengalir tenang di sela-selanya.
Dari celah di atas, cahaya matahari jatuh tipis menembus rimbunnya daun, memantul di permukaan air yang berkilau seperti taburan kaca.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Green Canyon, atau yang dikenal warga sebagai Cukang Taneuh, adalah aliran sungai yang membelah tebing batu karang di Pangandaran, Jawa Barat. Pengunjung menyusurinya dengan perahu kecil yang dikemudikan pemandu setempat.
Sepanjang perjalanan, kami disuguhi dinding batu yang diselimuti lumut dan tanaman hijau, dengan stalaktit yang menggantung di beberapa sisi.
Di bagian yang lebih sempit, tebing terasa begitu dekat sampai suara mesin perahu memantul dari dinding batu. Namun yang paling membuat saya penasaran adalah sesuatu yang belum terlihat. Konon, di sini ada pohon yang disebut pohon hujan abadi. Perahu kami akhirnya merapat di tepian batu karang yang cukup lebar.
Saya melangkah turun dengan hati-hati, karena permukaan batunya basah, licin, dan dipenuhi lubang-lubang kecil yang terbentuk oleh air selama bertahun-tahun.
Di sudut lain, perahu biru bernomor lambung 78 tampak menepi di dekat mulut gua yang gelap. Dari tepian itu, saya menapaki batu-batu karang menuju bagian atas tebing. Pijakannya tidak selalu rata, jadi saya berhenti sesekali untuk mengatur napas.
Semakin tinggi, suara rintik air terdengar semakin jelas. Dan ketika akhirnya sampai di atas, saya baru paham maksud nama itu.
Dari tebing di atas kepala, air jatuh terus-menerus seperti hujan deras yang tak mau reda, padahal langit hari itu cerah. Butiran air menimpa bebatuan dan permukaan sungai di bawah, menciptakan suara rintik yang konstan di lorong batu yang teduh. Saya mendongak, dan wajah saya langsung basah.
Penasaran, saya menghampiri Agus, petugas yang berjaga di sana, dan menanyakan kenapa tempat ini disebut pohon hujan abadi.
"Disebut begitu karena meskipun kemarau ataupun tidak hujan, air ini akan terus turun seperti hujan deras," kata Agus.
"Sebenarnya air ini berasal dari akar pohon tersebut, lalu berjatuhan ke bawah mengenai batu karang dan air di perairan di bawah sini," dia menambahkan.
Saya mengangguk sambil memandangi tetesan yang turun dari sela-sela akar.
Dari ketinggian itu, semuanya terlihat jelas, air yang jatuh, batu karang yang berkilau basah, dan sungai hijau jernih di bawah yang memantulkan cahaya. Rasanya aneh sekaligus menakjubkan.
Di musim kemarau sekalipun, pohon itu seolah tak pernah kehabisan air untuk dijatuhkan. Dari atas karang, pengunjung bisa berfoto atau berenang di perairan jernih di bawahnya.
Rian, pemandu yang mendampingi kami, menjelaskan bahwa suasana di tempat ini bisa sangat berbeda ketika musim liburan.
"Kalau libur panjang, makin ramai di sini. Bisa sampai 70 perahu mengantre untuk naik ke karang, berenang, dan berfoto," kata dia.
Saya menengok ke sekeliling. Hari itu hanya beberapa perahu yang tampak. Tak ada antrean, tak ada desak-desakan. Saya bisa berdiri lama di atas tebing, mendengarkan rintik air dari pohon hujan abadi, sambil memandangi dinding hijau yang menjulang di kiri dan kanan.
Kebetulan saya datang bukan di musim liburan, dan itu terasa seperti keberuntungan kecil. Green Canyon hari itu memberi saya ruang untuk menikmatinya dengan tenang, air hijau yang jernih, batu karang berlumut, dan hujan yang turun tanpa awan.
Saat kembali menuruni batu menuju perahu, saya sempat menoleh ke belakang. Hujan dari akar pohon itu masih turun, sama derasnya seperti ketika kami datang.


































































Komentar Terbanyak
Kapolda Jateng Bantah Izin Konser Andrea Bocelli di Borobudur Dicabut!
Melihat Lagi Dukungan Menteri Pariwisata Terhadap Konser Andrea Bocelli
Polemik Konser Andrea Bocelli: Didukung Menteri Pariwisata-Ditolak MUI