Puluhan orang utan yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan berhasil diselamatkan. Berikut kronologi evakuasinya:
Upaya penyelamatan orang utan dilakukan menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan High Conservation Value (HCV) perkebunan kelapa sawit PT KALE, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Sejak 14 September hingga 16 Oktober 2026, tim gabungan telah berhasil mengevakuasi sejumlah orang utan, mulai dari induk dan anak hingga individu remaja yang ditemukan tanpa induknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam prosesnya, tim menemukan orang utan dengan kondisi kesehatan beragam. Sejumlah individu mengalami dehidrasi, malnutrisi, luka pada tubuh, hingga gangguan pernapasan. Ada pula anak orang utan yang ditemukan sendirian di tengah habitat yang rusak akibat kebakaran," cerita CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Karmele Llano Sanchez, Senin (19/10/2026).
14-16 September 2026
Penyelamatan pertama dilakukan pada 14 September 2026. Tim gabungan menemukan seekor orang utan betina muda yang kemudian diberi nama Sekuting. Berdasarkan pemeriksaan gigi, Sekuting diperkirakan berusia kurang dari lima tahun dan ditemukan tanpa induknya.
"Dua hari kemudian, pada 16 September, tim mengevakuasi dua pasangan induk dan anak, yakni Mama Angelo bersama Angelo serta Mama Abu bersama Abu," kata Karmele.
Mama Angelo diperkirakan berusia lebih dari 20 tahun, sedangkan Angelo berusia sekitar 4-5 tahun. Saat ditemukan, Mama Angelo mengalami dehidrasi dan memiliki sejumlah luka pada kaki.
Ia juga sempat mengalami gangguan pernapasan saat pemeriksaan sehingga harus mendapatkan penanganan dan pemantauan medis lebih lanjut.
Pada hari yang sama, tim menyelamatkan Mama Abu yang berusia lebih dari 20 tahun bersama anaknya, Abu. Pemeriksaan menunjukkan adanya luka pada kulit Mama Abu yang diduga berkaitan dengan paparan bara api.
Sementara itu, Abu diperkirakan berusia kurang dari tiga bulan. Meski tidak ditemukan luka bakar pada tubuhnya, kondisi Abu terlihat kurus sehingga membutuhkan pemantauan lebih lanjut.
19-26 September 2026
Proses evakuasi berlanjut pada 19 September 2026 dengan penyelamatan Mama Urlan dan anaknya, Urlan. Mama Urlan diperkirakan berusia lebih dari 15 tahun, sedangkan Urlan berusia sekitar 3-4 tahun. Pemeriksaan awal menemukan bekas luka lama pada bahu Mama Urlan, tetapi tidak ditemukan luka bakar.
Pada 24 September, lanjut Karmele, tim mengevakuasi Mama Ocha dan anaknya dari kebun yang berbatasan dengan kawasan HCV. Mama Ocha diperkirakan berusia lebih dari 15 tahun. Pemeriksaan awal menemukan telapak tangannya kering dan mulai retak, serta sejumlah bagian yang diduga mengalami lepuhan.
Dua hari kemudian, pada 26 September, enam individu orang utan dievakuasi. Mereka terdiri atas Mama Satya dan anaknya yang berusia sekitar lima tahun, Mama Irene bersama bayinya yang berusia 6-8 bulan, serta dua orang utan muda bernama Mila dan Mele.
"Bayi Mama Irene ditemukan dalam kondisi malnutrisi berat. Sementara itu, Mila dan Mele, yang diperkirakan berusia 5-7 tahun, ditemukan tanpa induk. Hingga saat ini, keberadaan induk keduanya belum diketahui meskipun tim masih melakukan pencarian," ujar Karmele.
28-30 September 2026
Penyelamatan berikutnya dilakukan pada 28 September terhadap Mama Atri dan anaknya, Atri. Mama Atri diperkirakan berusia lebih dari 20 tahun dengan berat badan sekitar 30 kilogram. Meski tidak ditemukan luka yang diduga akibat kebakaran, terdapat luka pada kaki Mama Atri yang diperkirakan terjadi saat terjatuh dari pohon sawit dan terkena duri.
"Tubuhnya juga terlihat kurus sehingga tim memberikan cairan infus dan oksigen untuk menstabilkan kondisinya," jelas Karmele.
Atri, yang diperkirakan berusia kurang dari lima tahun, tetap berada bersama induknya selama proses pemeriksaan. Anak orang utan tersebut sempat mencoba melarikan diri ketika induknya diperiksa, tetapi kemudian dikembalikan ke dekapan Mama Atri.
Kemudian, pada 29 September 2026, tim gabungan mengevakuasi seekor orang utan jantan dewasa bernama Viktor. Orang utan berusia lebih dari 20 tahun dengan berat sekitar 75 kilogram itu telah memiliki cheek pad, yaitu bantalan pipi yang berkembang pada orang utan jantan dewasa.
Setelah dibius dan diturunkan dari pohon, Viktor menjalani pemeriksaan medis. Kondisinya secara umum dinilai cukup baik. Setelah mendapat perawatan, Viktor dibawa ke lokasi translokasi di kawasan konsesi PT MPK di Desa Ulak Medang, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang, pada hari yang sama.
Sehari berikutnya, 30 September, penyelamatan kembali dilakukan terhadap sejumlah orang utan, termasuk Mama Pia dan anaknya, Pia. Mama Pia diperkirakan berusia lebih dari 15 tahun. Tidak ditemukan luka pada tubuhnya dan kondisinya relatif stabil selama pemantauan. Tim memberikan obat pereda nyeri dan cairan infus.
Anaknya, Pia, merupakan orang utan betina muda berusia sekitar 7-8 tahun. Meski tidak ditemukan luka terbuka maupun luka bakar, tubuh Pia terlihat kurus dan mengalami dehidrasi sehingga harus mendapatkan cairan infus. Pada hari yang sama, tim juga mengevakuasi seekor orang utan betina muda bernama Tere yang diperkirakan berusia 4-5 tahun.
Penyelamatan kemudian berlanjut terhadap Mama Zole dan anaknya, Zole. Mama Zole diperkirakan berusia lebih dari 15 tahun, sedangkan Zole berusia sekitar dua tahun. Saat ditemukan, Zole masih menempel erat pada tubuh induknya. Keduanya diamankan bersama agar anak tetap berada dalam dekapan induknya selama evakuasi.
3-10 Oktober 2026
Pada 3 Oktober 2026, tim kembali mengevakuasi Mama Aldia dan anaknya dari kawasan HCV PT KALE. Pemeriksaan medis tidak menemukan luka terbuka maupun luka bakar pada tubuh keduanya. Namun, suhu tubuh Mama Aldia sempat mencapai 40 derajat Celsius, yang diduga dipengaruhi kondisi lingkungan yang panas.
"Tim kemudian memberikan cairan infus yang didinginkan menggunakan ice pack. Setelah penanganan, suhu tubuh Mama Aldia berangsur kembali normal," jelas Karmele.
Penyelamatan berlanjut pada 10 Oktober 2026 dengan evakuasi Lusi, orang utan betina remaja yang ditemukan tanpa induknya di kawasan HCV PT KALE. Kondisi Lusi saat ditemukan cukup parah. Ia mengalami banyak luka terbuka di sekujur tubuhnya. Tim medis di lapangan segera membersihkan luka dan memberikan antibiotik.
"Lusi kemudian dibawa ke Pusat Rehabilitasi Orang Utan YIARI di Ketapang untuk menjalani perawatan lebih lanjut," terangnya.
16 Oktober 2026
Terbaru, pada 16 Oktober 2026, tim menyelamatkan seekor orang utan muda berusia sekitar empat tahun yang ditemukan sendirian di kawasan HCV PT KALE. Tidak ditemukan luka terbuka maupun luka bakar pada tubuhnya. Namun, tim mempertanyakan keberadaan induknya karena orang utan muda umumnya masih bergantung pada induk hingga usia sekitar 6-7 tahun.
"Kami merasa kasihan melihat anak orang utan sendirian tanpa induknya. Kami pun bertanya-tanya, ke mana induknya, sebab, induk orang utan biasanya tidak meninggalkan anaknya, sehingga kami sangat khawatir induknya mungkin sudah mati," katanya.
Menurut Karmele, rangkaian penyelamatan tersebut menunjukkan besarnya ancaman kerusakan habitat terhadap orang utan di kawasan perkebunan PT KALE.
Selain menyelamatkan individu yang ditemukan, tim masih perlu memantau kawasan tersebut untuk mencari orang utan lain yang kemungkinan bertahan di habitat terdampak kebakaran.
"Kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan. Di beberapa bagian, asap masih tebal, bahkan masih ditemukan titik titik dengan tanah yang mengeluarkan asap. Dalam kondisi seperti ini, orang utan kehilangan tempat berlindung dan sumber pakan, sementara mereka masih harus bergerak di area yang berisiko karena panas dan sisa bara. Artinya, proses penyelamatan masih harus dilanjutkan. Di kawasan HCV PT KALE, masih terdapat sejumlah orang utan yang terdampak dan membutuhkan evakuasi dan penanganan medis segera," tutupnya.
---------
Artikel ini telah naik di detikKalimantan.
Simak Video "Video: Pilu Orang Utan Novita Kehilangan Jari Imbas Karhutla"
[Gambas:Video 20detik](wsw/wsw)



























































