Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) mendorong penguatan pemberdayaan masyarakat melalui ekosistem pendidikan madrasah dan pesantren.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah pengembangan kurikulum pemberdayaan bagi siswa madrasah aliyah dan santri tingkat pendidikan menengah agar memiliki keterampilan untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut dibahas dalam rapat khusus mengenai pemberdayaan masyarakat dalam lingkup tugas dan fungsi Kemenag. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar mengatakan penguatan kurikulum pemberdayaan menjadi salah satu fokus pembahasan, terutama pada jenjang pendidikan menengah.
Selama ini, pendidikan berbasis kompetensi umumnya diberikan sebagai materi tambahan, seperti keterampilan tertentu, pengembangan skill, hingga paket kajian atau kurikulum khusus. Ke depan, pendekatan tersebut akan terus dikembangkan agar pemberdayaan menjadi bagian dari persiapan lulusan madrasah dan pesantren.
"Siap kerja itu artinya yang siap diserap lapangan kerja yang sesuai level pendidikan menengah; siap berusaha diharapkan meskipun lulusan sekolah menengah atau aliyah atau sejajar di level pesantren, itu juga memasukkan unsur-unsur pemberdayaan dan kemandirian sehingga lulusannya bisa siap menjadi pelaku usaha," jelas Cak Imin di Kantor Kemenko PM, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Pesantren Didorong Jadi Ekosistem Ekonomi Produktif
Selain penguatan kurikulum, rapat tersebut membahas pesantren sebagai ekosistem pemberdayaan masyarakat. Menurut Cak Imin, sejumlah pesantren telah menunjukkan keberhasilan dalam mengembangkan kegiatan ekonomi produktif yang tidak hanya menopang operasional pesantren, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Salah satu contoh yang disorot adalah Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Bandung yang mengembangkan ekosistem agribisnis. Model tersebut dinilai dapat menjadi contoh bagi pesantren lain dalam membangun kemandirian ekonomi sekaligus memperluas manfaat bagi komunitas di sekitarnya.
Cak Imin berharap Kemenag dapat terus mendorong pengembangan ekosistem ekonomi pesantren dengan dukungan kementerian lain serta program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).
Menurutnya, perhatian khusus perlu diberikan kepada pesantren yang mayoritas santrinya berasal dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Pengembangan ekonomi berbasis pesantren dinilai memiliki potensi besar karena didukung ekosistem yang telah terbentuk.
"Jadi pesantren ini mayoritas anak didiknya atau santrinya adalah berlatar belakang desil 1 sampai 4. Ini mendapatkan perhatian khusus dalam memberikan pemberdayaan berbasis ekosistem pesantren yang sudah sangat kuat, yaitu ekosistem ekonomi: pasarnya ada, konsumennya ada, bahan bakunya juga ada," jelasnya.
Ada kurang lebih 80.000 madrasah dan 42.000 pondok pesantren di bawah Kementerian Agama.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan meskipun pada umumnya para santri berasal dari kelompok masyarakat desil 1 sampai 4 tetapi semangat kerjanya sangat tinggi.
"Alumni kami itu insyaallah umumnya tidak manja dan siap untuk berkeringat. Dan terbukti ya betul-betul memberikan penguatan pemberdayaan masyarakat terutama di pedesaan," tegas Menag.
Potensi Wakaf untuk Pemberdayaan Masyarakat
Aspek lain yang menjadi pembahasan adalah pemanfaatan dana umat, khususnya wakaf, sebagai instrumen pemberdayaan dan penguatan kemandirian masyarakat.
Potensi wakaf dinilai dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi produktif. Dengan pengelolaan yang tepat, aset wakaf tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan sosial, tetapi juga dapat mendukung terciptanya kemandirian ekonomi masyarakat.




































































